Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Hujan Es dan Strukturnya

Salah satu fenomena alam yang pernah terjadi di Indonesia adalah hujan es. Hujan es merupakan salah satu fenomena alam yang unik. Jika biasanya hujan hanya berupa butiran air yang cair, namun berbeda dengan hujan es yang berupa bongkahan es dengan bentuk yang tak beraturan. 
Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Hujan Es dan Strukturnya

Berikut ini contoh teks eksplanasi yang akan membahas bagaimana proses hujan es itu terjadi dan mengapa bisa terjadi hujan es.

Proses Terjadinya Hujan Es

Hujan es dalam ilmu meteorologi disebut juga hail, adalah presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena ukurannya, walaupun telah turun ke arah yang lebih rendah dengan suhu relatif hangat tidak semuanya mencair. Hujan es tidak hanya terjadi di negara subtropis, tapi bisa juga terjadi di daerah ekuator.

Proses lain yang dapat menyebabkan hujan adalah riming, dimana uap air lewat dingin tertarik ke permukaan benih-benih es. Karena terjadi pengembunan yang mendadak maka terjadilah es dengan ukuran yang besar.

Hujan es disertai puting beliung berasal dari jenis awan bersel tunggal berlapis-lapis (CB) dekat dengan permukaan bumi, dapat juga berasal dari multi sel awan, dan tumbuh secara vertikal dengan luas area horizontalnya sekitar 3-5 km dan kejadiannya singkat berkisar antara 3-5 menit. Jenis awan berlapis-lapis ini menjulang ke arah vertikal sampai dengan ketinggian 30.000 kaki lebih dan biasanya berbentuk bunga kol dan disebut awan cumulo nimbus (CB).

Dua per tiga dari bumi ini mengandung air dan sisanya adalah daratan. Air itu tersimpan dalam di tempat seperti samudera, lautan, dan permukaan tanah. Air di samudera, lautan, sungai, dan danau tersebut akan mengalami penguapan atau evaporasi dengan bantuan sinar matahari, sedangkan air pada tumbuhan akan mengalami proses penguapan yang dinamakan transpirasi.

Kemudian uap-uap air tersebut akan mengalami proses kondensasi atau pemadatan yang akhirnya menjadi awan. Awan-awan itu akan bergerak ke tempat yang berbeda dengan bantuan embusan angin baik secara vertikal maupun horizontal. Awan yang mengandung uap air tertiup angin ke tempat yang dingin, mencapai dew point/titik embun lalu mengembun, dan karena beratnya, kemudian jauh sebagai hujan. Setelah mengembun dan menjadi air, lalu tertiup oleh angin thermis yang naik, ke ketinggian dengan temperatur di bawah freezing point. Embun tersebut lalu akan membeku menjadi es, dan akan jatuh.

Karena ikatan antarmolekul es selaku benda padat jauh lebih kuat dari ikatan antarmolekul air, maka es tersebut lalu jatuh dalam bentuk yang tidak beraturan, bisa sebesar kepalan tangan. Inilah fenomena hujan es.

Hujan es juga sering terjadi di Indonesia meskipun Indonesia terletak di daerah tropis yang suhu udaranya (di permukaan) selalu hangat dengan kelembapan udara yang relatif tinggi meskipun pada musim kemarau. Hujan es bisa menyebabkan kerusakan serius, khususnya untuk dunia otomotif, penerbangan, kaca dan jendela, peternakan, dan banyak lainnya.

Sedangkan Struktur Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Hujan Es tersebut adalah

  • Pernyataan Umum
"Hujan es dalam ilmu meteorologi disebut juga hail, adalah presipitasi yang terdiri dari bola-bola es. Salah satu proses pembentukannya adalah melalui kondensasi uap air lewat dingin di atmosfer pada lapisan di atas freezing level. Es yang terjadi dengan proses ini biasanya berukuran besar. Karena ukurannya, walaupun telah turun ke arah yang lebih rendah dengan suhu relatif hangat tidak semuanya mencair. Hujan es tidak hanya terjadi di negara subtropis, tapi bisa juga terjadi di daerah ekuator." (Paragraf 1)
  • Urutan Sebab Akibat
Paragraf 2, 3, 4, 5, dan 6
  • Interpretasi
"Hujan es juga sering terjadi di Indonesia meskipun Indonesia terletak di daerah tropis yang suhu udaranya (di permukaan) selalu hangat dengan kelembapan udara yang relatif tinggi meskipun pada musim kemarau. Hujan es bisa menyebabkan kerusakan serius, khususnya untuk dunia otomotif, penerbangan, kaca dan jendela, peternakan, dan banyak lainnya." (Paragraf 7)


Itulah Contoh Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Hujan Es dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Pelangi dan Strukturnya

Pelangi merupakan salah satu fenomena alam yang sangat indah. Pelangi biasanya muncul setelah  hujan terjadi. Beragam warna pada pelangi menjadikannya fenomena alam yang unik dan menarik untuk dilihat, walaupun pelangi hanya muncul dalam waktu yang relatif singkat. 

Berikut ini Contoh Teks Eksplanasi tentang Proses Terjadinya Pelangi

Proses Terjadinya Pelangi

Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Pelangi dan Strukturnya

Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahay beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air.

Pelangi terbentuk karena pembiasan sinar matahari oleh tetesan air yang ada di atmosfer. Di dalam tetesan air, sudah terdapat warna yang berbeda memanjang dari satu sisi ke sisi tetesan air lainnya. Beberapa dari cahaya berwarna ini kemudian dipantulkan dari sisi yang jauh pada tetesan air, kembali dan keluar lagi dari tetesan air.

Ketika sinar matahari melalui tetesan air, cahaya tersebut dibengkokkan sedemikian rupa sehingga membuat warna-warna yang ada pada cahaya tersebut terpisah. Tiap warna dibelokkan pada sudut yang berbeda. Warna merah adalah warna yang paling terakhir dibengkokkan, sedangkan ungu adalah yang paling pertama. Warna putih cahaya matahari sebenarnya adalah gabungan dari berbagai cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Panjang gelombang cahaya ini membentuk pita garis-garis paralel, tiap warna bernuansa dengan warna di sebelahnya. Pita ini disebut spektrum warna. Di dalam spektrum warna, garis merah selalu berada pada salah satu sisis dan biru serta ungu di sisi lain, dan ini ditentukan oleh perbedaan panjang gelombang.

Semua warna yang dihasilkan oleh pelangi berawal dari cahaya matahari. Matahari sendiri memiliki beberapa warna yang disebut polikromatik. Cahaya yang dapat ditangkap jelas oleh mata manusia hanya tujuh warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu (mejikuhibiniu). Ketujuh cahaya inilah yang dikenal sebagai cahaya tampak.

Pelangi terlihat sebagai busur dari permukaan bumi karena terbatasnya sudut pandang mata, jika titik pandang di tempat yang tinggi misalnya dari pesawat terbang dapat terlihat sebagai spektrum warna lengkap yaitu berbentuk lingkaran. Pelangi hanya dapat dilihat saat hujan bersamaan dengan matahari bersinar, tapi dari sisi berlawanan dengan si pengamat. Posisi si pengamat harus berada di antara matahari dan tetesan air dengan matahari di belakang pengamat tersebut. Matahari, mata si pengamat, dan pusat busur pelangi harus berada dalam satu garis lurus.

Keunikan pelangi adalah hanya dapat dilihat sesaat setelah hujan dan disertai cahaya matahari, biasanya terjadi di pagi maupun sore hari saat sudut antara matahari dan bumi masih rendah. Posisi pengamat juga sangat menentukan, yaitu jika di antara hujan dan sinar matahari, dan sinar matahari berada di belakang pengamat. Sehingga terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi. Akibatnya terbentuklah pelangi dari hasil pembiasan dan posisi pengamat tersebut.


Sedangkan Struktur Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Pelangi tersebut adalah

  • Pernyataan Umum
"Pelangi atau bianglala adalah gejala optik dan meteorologi berupa cahay beraneka warna saling sejajar yang tampak di langit atau medium lainnya. Pelangi merupakan suatu busur spektrum besar yang terjadi karena pembiasan cahaya matahari oleh butir-butir air." (Paragraf 1)

  • Urutan Sebab Akibat
Paragraf 2, 3, 4, dan 5
  • Interpretasi
"Keunikan pelangi adalah hanya dapat dilihat sesaat setelah hujan dan disertai cahaya matahari, biasanya terjadi di pagi maupun sore hari saat sudut antara matahari dan bumi masih rendah. Posisi pengamat juga sangat menentukan, yaitu jika di antara hujan dan sinar matahari, dan sinar matahari berada di belakang pengamat. Sehingga terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi. Akibatnya terbentuklah pelangi dari hasil pembiasan dan posisi pengamat tersebut." (Paragraf 6)


Itulah Contoh Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Pelangi dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

Teks Eksplanasi tentang Fatamorgana dan Strukturnya

Teks Eksplansi adalah teks yang berisi tentang proses 'mengapa' dan 'bagaimana' kejadian-kejadian alam, sosial, ilmu pengetahuan, budaya, dan lainnya dapat terjadi. Salah satu kejadian alam yang menarik adalah fatamorgana. Salah satu contoh fatamorgana adalah ketika siang hari yang panas di jalan raya dan kita melihat dari jauh ada genangan air di jalan tapi setelah didekati ternyata tidak ada.

Berikut ini Teks Eksplanasi tentang Fatamorgana.
Teks Eksplanasi tentang Fatamorgana dan Strukturnya

Fatamorgana

Fatamorgana adalah bayangan semu (tidak nyata) yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir atau padang es. Kata fatamorgana diambil dari bahasa Italia yang mulanya diambil dari nama saudara Raja Arthur, Faye le Morgana. Fatamorgana sering menyerupai danau atau air yang berminyak. Ini sebenarnya adalah pantulan dari langit karena udara yang panas. Udara panas ini berfungsi sebagai cermin.

Fatamorgana terjadi karena adanya perbedaan kerapatan antara udara dingin dan udara panas. Udara dingin memiliki kerapatan lebih pekat dan lebih berat dibandingkan udara panas. Kenyataannya, lapisan udara panas yang ada di dekat tanah terperangkap oleh lapisan udara yang lebih dingin di atasnya. Cahaya dibiaskan secara horizontal dan pandangan akhirnya berjalan ke atas karena pengaruh internal total. Pemantulan internal total (total internal reflection) adalah proses pemantulan seberkas cahaya pada permukaan batas antara satu medium dengan medium lain yang indeks biasnya lebih kecil jika sudut datang ke medium kedua melebihi suatu sudut kritis tertentu. Dengan demikian, cahaya berjalan di dalam medium yang memiliki indeks bias yang tinggi seperti air, kaca, dan plastik ke medium yang memiliki indeks bias lebih rendah seperti udara. Akibatnya gambar dengan sifat semu dan terbalik akan membentuk fatamorgana.

Fatamorgana ada dua macam yaitu fatamorgana superior dan inferior. Fatamorgana superior terjadi di atas cakrawala, sedangkan fatamorgana inferior lebih sering terjadi di sekitar kita.

Secara ilmiah, fatamorgana digolongkan dalam fenomena alam yang unik, karena terbentuk dari proses alamiah yang membentuk suatu hal yang indah di alam. Masyarakat yang tidak paham proses terjadinya fatamorgana sering beranggapan bahwa hal itu disebabkan oleh kelelahan mata, namun sebenarnya fatamorgana dapat dilihat tanpa kelelahan mata, bahkan dapat difoto secara langsung.

Sedangkan Struktur Teks Eksplanasi Fatamorgana tersebut adalah

  • Pernyataan Umum
"Fatamorgana adalah bayangan semu (tidak nyata) yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir atau padang es. Kata fatamorgana diambil dari bahasa Italia yang mulanya diambil dari nama saudara Raja Arthur, Faye le Morgana. Fatamorgana sering menyerupai danau atau air yang berminyak. Ini sebenarnya adalah pantulan dari langit karena udara yang panas. Udara panas ini berfungsi sebagai cermin." (Paragraf 1)
  • Urutan Sebab Akibat
Paragraf 2 dan 3
  • Interpretasi
"Secara ilmiah, fatamorgana digolongkan dalam fenomena alam yang unik, karena terbentuk dari proses alamiah yang membentuk suatu hal yang indah di alam. Masyarakat yang tidak paham proses terjadinya fatamorgana sering beranggapan bahwa hal itu disebabkan oleh kelelahan mata, namun sebenarnya fatamorgana dapat dilihat tanpa kelelahan mata, bahkan dapat difoto secara langsung." (Paragraf 4)


Itulah Contoh Teks Eksplanasi Fatamorgana dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

TEKS EKSPLANASI PROSES TERJADINYA PETIR DAN STRUKTURNYA

Proses Terjadinya Petir

            Petir merupakan peristiwa lepasnya muatan listrik statis yang terjadi secara dramatik dan alamiah. Peristiwa ini terjadi akibat dari keluarnya muatan-muatan listrik dari benda, dalam hal ini adalah awan. Pelepasan listrik statis kadang-kadang terjadi secara perlahan dan tenang. Namun, sesekali berlangsung cepat disertai percikan cahaya atau suatu bunyi ledakan. Percikan cahaya yang muncul ini disebut dengan kilat.

            Petir terjadi karena perbedaan potensial muatan antara awan dan bumi, atau awan dengan awan  lainnya. Muatan pada awan itu terjadi karena awan bergerak terus-menerus secara teratur. Selama pergerakan itu awan akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi. Sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Biasanya ini terjadi sebelum awan ‘menumpahkan’ hujan.

teks eksplanasi proses terjadinya petir

            Awan sendiri terdiri dari jutaan butir air dan es beku di udara. Selama proses interaksi, butiran air berbenturan dengan awan lain yang sedang kembali mencair (kendensasi) ke atas. Butiran ini mengakibatkan muatan negatif (elektron) terjatuh. Elektron tersebut terkumpul di bagian bawah memberikan muatan negatif dan awan yang naik yang kehilangan elektron, membawa muatan positif ke bagian atas. Pada titik ini, udara yang naik mempunyai kemampuan untuk membawa muatan positif ke awan bagian atas, bagian beku lainnya akan terjatuh ke bagian awan terbawah atau menuju ke tanah. Kombinasi antara benturan dan pembekuan ini menyebabkan perbedaan muatan yang sangat besar, dan mengakibatkan terjadinya sambaran petir.

            Petir lebih sering terjadi pada musim hujan karena pada keadaan ini udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antarawan yang berbeda muatan.

            Petir merupakan salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Meskipun arus petir hanya sesaat, kira-kira selama 200 mikrodetik, tapi kerusakan yang ditimbulkan sangat luar biasa. Efek dari serangan langsung sangat jelas terlihat, mulai dari kerusakan bangunan, kebakaran, sampai bahaya kematian bagi manusia. 

Sedangkan untuk struktur teks eksplanasi proses terjadinya petir tersebut adalah

  • Pernyataan Umum
"Petir merupakan peristiwa lepasnya muatan listrik statis yang terjadi secara dramatik dan alamiah. Peristiwa ini terjadi akibat dari keluarnya muatan-muatan listrik dari benda, dalam hal ini adalah awan. Pelepasan listrik statis kadang-kadang terjadi secara perlahan dan tenang. Namun, sesekali berlangsung cepat disertai percikan cahaya atau suatu bunyi ledakan. Percikan cahaya yang muncul ini disebut dengan kilat." (Paragraf 1)
  • Urutan Sebab Akibat
"Petir terjadi karena perbedaan potensial muatan antara awan dan bumi, atau awan dengan awan lainnya. Muatan pada awan itu terjadi karena awan bergerak terus-menerus secara teratur. Selama pergerakan itu awan akan berinteraksi dengan awan lainnya sehingga muatan negatif akan berkumpul pada salah satu sisi. Sedangkan muatan positif berkumpul pada sisi sebaliknya. Biasanya ini terjadi sebelum awan ‘menumpahkan’ hujan.

Awan sendiri terdiri dari jutaan butir air dan es beku di udara. Selama proses interaksi, butiran air berbenturan dengan awan lain yang sedang kembali mencair (kendensasi) ke atas. Butiran ini mengakibatkan muatan negatif (elektron) terjatuh. Elektron tersebut terkumpul di bagian bawah memberikan muatan negatif dan awan yang naik yang kehilangan elektron, membawa muatan positif ke bagian atas. Pada titik ini, udara yang naik mempunyai kemampuan untuk membawa muatan positif ke awan bagian atas, bagian beku lainnya akan terjatuh ke bagian awan terbawah atau menuju ke tanah. Kombinasi antara benturan dan pembekuan ini menyebabkan perbedaan muatan yang sangat besar, dan mengakibatkan terjadinya sambaran petir.

Petir lebih sering terjadi pada musim hujan karena pada keadaan ini udara mengandung kadar air yang lebih tinggi sehingga daya isolasinya turun dan arus lebih mudah mengalir. Karena ada awan bermuatan negatif dan awan bermuatan positif, maka petir juga bisa terjadi antarawan yang berbeda muatan
."(Paragraf 2, 3 dan 4)
  • Interpretasi
"Petir merupakan salah satu fenomena alam yang paling kuat dan menghancurkan. Meskipun arus petir hanya sesaat, kira-kira selama 200 mikrodetik, tapi kerusakan yang ditimbulkan sangat luar biasa. Efek dari serangan langsung sangat jelas terlihat, mulai dari kerusakan bangunan, kebakaran, sampai bahaya kematian bagi manusia."(Paragraf 5)

Itulah contoh Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Petir dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

TEKS EKSPLANASI PROSES TERJADINYA TSUNAMI DAN STRUKTURNYA

          Proses Terjadinya Tsunami


          Tsunami yang berasal dari bahasa Jepang, yaitu tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti gelombang, merupakan salah satu bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia. Berdasarkan arti kata tersebut, tsunami dapat diartikan sebagai perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tsunami ini rawan di semua negara yang berbatasan dengan laut dan memiliki potensi gempa yang tinggi.

       Tsunami terjadi saat gerakan vertikal pada kerak bumi karena letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba sehingga mengganggu keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran energi air laut yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar sehingga terjadilah tsunami.

           Gelombang ombak yang terjadi dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500 sampai 1000 km per jam, kecepatan yang setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai, tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.


teks eksplanasi proses terjadinya tsunami

       Tsunami mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Korban jiwa ini diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Selain korban jiwa, tsunami juga berdampak negatif terhadap bangunan, tumbuh-tumbuhan, maupun pencemaran lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sedangkan Struktur Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Tsunami tersebut adalah

  • Pernyataan Umum
"Tsunami yang berasal dari bahasa Jepang, yaitu tsu yang berarti pelabuhan dan nami yang berarti gelombang, merupakan salah satu bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia. Berdasarkan arti kata tersebut, tsunami dapat diartikan sebagai perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Tsunami ini rawan di semua negara yang berbatasan dengan laut dan memiliki potensi gempa yang tinggi." (Paragraf 1)
  • Urutan Sebab Akibat
         "Tsunami terjadi saat gerakan vertikal pada kerak bumi karena letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba sehingga mengganggu keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini menyebabkan terjadinya aliran energi air laut yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar sehingga terjadilah tsunami. (Paragraf 2)

         Gelombang ombak yang terjadi dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500 sampai 1000 km per jam, kecepatan yang setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai, tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer." (Paragraf 3)
  • Interpretasi
"Tsunami mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit. Korban jiwa ini diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami. Selain korban jiwa, tsunami juga berdampak negatif terhadap bangunan, tumbuh-tumbuhan, maupun pencemaran lahan pertanian, tanah, dan air bersih." (Paragraf 4)

Itulah penjelasan Contoh Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Tsunami dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

TEKS EKSPLANASI PROSES TERJADINYA GUNUNG MELETUS DAN STRUKTURNYA

Proses Terjadinya Gunung Meletus

         Gunung meletus merupakan kejadian yang sering terjadi di Indonesia. Gunung meletus terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi.

          Bumi terdiri dari inti bumi yang panas beserta bebatuan dan tanah. Karena tertutupi oleh batuan dan tanah, maka pada permukaan tidak terasa panas. Kemudian, panas dari inti bumi ini akan tersalurkan pada tanah dan bebatuan, sehingga bagian dalam bumi akan bergejolak karena panas.

          Panas yang dihasilkan oleh inti bumi ini akan terus membakar bagian bebatuan dan tanah yang melindungi permukaan bumi dan menghasilkan magma. Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Namun, mantel yang melindungi bumi tersebut tidak sanggup untuk menahan magma inti bumi terlalu lama. Hal ini mengakibatkan endapan magma dari inti bumi tersebut naik. Apabila magma ini sudah tidak kuat untuk ditahan, maka akan tersembur keluar bersamaan dengan bebatuan dan asap letusan dari gunung tersebut. Magma yang tersembur keluar itu akan menghasilkan lava. Suhu lava yang dikeluarkan ini bisa mencapai 700-1.200 °C. Lava ini jika mengenai suatu objek, akan menjadikan api terhadap benda yang dilewati tersebut.


teks eksplanasi proses terjadinya gunung meletus

       Lava yang disemburkan oleh gunung tersebut dapat mencapai jarak yang cukup jauh, yaitu sekitar 40 km. Dalam jarak tersebut, lava yang bergerak masih berada dalam suhu yang cukup panas. Apabila melewati jarak 40 km, lava berangsur mulai menjadi dingin. Lava ini dinamakan dengan lahar. Lava ini juga mengandung asap. Asap ini mengandung sulfur dioksida yang dapat menjangkau area yang cukup jauh. Zat ini dapat menstimulasi terjadinya suatu hujan asam di daerah sekitar asap tersebut. Selain itu, asap hasil letusan ini dapat mengakibatkan sesak napas bagi makhluk hidup.

      Gunung meletus selain membawa pengaruh negatif yang sangat merugikan, juga membawa pengaruh positif. Pengaruh positif tersebut antara lain adalah melimpahnya bahan galian seperti batu dan pasir, serta bahan kimia seperti belerang, gipsum, zeolit dan juga emas (epiternal gold).

Sedangkan Struktur Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Gunung Meletus tersebut adalah


  • Pernyataan Umum
"Gunung meletus merupakan kejadian yang sering terjadi di Indonesia. Gunung meletus terjadi akibat endapan magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi." (Paragraf 1)
  • Urutan Sebab Akibat
        "Bumi terdiri dari inti bumi yang panas beserta bebatuan dan tanah. Karena tertutupi oleh batuan dan tanah, maka pada permukaan tidak terasa panas. Kemudian, panas dari inti bumi ini akan tersalurkan pada tanah dan bebatuan, sehingga bagian dalam bumi akan bergejolak karena panas.(Paragraf 2)

          Panas yang dihasilkan oleh inti bumi ini akan terus membakar bagian bebatuan dan tanah yang melindungi permukaan bumi dan menghasilkan magma. Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari 1.000 °C. Namun, mantel yang melindungi bumi tersebut tidak sanggup untuk menahan magma inti bumi terlalu lama. Hal ini mengakibatkan endapan magma dari inti bumi tersebut naik. Apabila magma ini sudah tidak kuat untuk ditahan, maka akan tersembur keluar bersamaan dengan bebatuan dan asap letusan dari gunung tersebut. Magma yang tersembur keluar itu akan menghasilkan lava. Suhu lava yang dikeluarkan ini bisa mencapai 700-1.200 °C. Lava ini jika mengenai suatu objek, akan menjadikan api terhadap benda yang dilewati tersebut.(Paragraf 3)

        Lava yang disemburkan oleh gunung tersebut dapat mencapai jarak yang cukup jauh, yaitu sekitar 40 km. Dalam jarak tersebut, lava yang bergerak masih berada dalam suhu yang cukup panas. Apabila melewati jarak 40 km, lava berangsur mulai menjadi dingin. Lava ini dinamakan dengan lahar. Lava ini juga mengandung asap. Asap ini mengandung sulfur dioksida yang dapat menjangkau area yang cukup jauh. Zat ini dapat menstimulasi terjadinya suatu hujan asam di daerah sekitar asap tersebut. Selain itu, asap hasil letusan ini dapat mengakibatkan sesak napas bagi makhluk hidup. "(Paragraf 4)
  • Interpretasi 
"Gunung meletus selain membawa pengaruh negatif yang sangat merugikan, juga membawa pengaruh positif. Pengaruh positif tersebut antara lain adalah melimpahnya bahan galian seperti batu dan pasir, serta bahan kimia seperti belerang, gipsum, zeolit dan juga emas (epiternal gold)." (Paragraf 5)

Itulah Contoh Teks Eksplanasi Proses Terjadinya Gunung Meletus dan Strukturnya. Semoga bermanfaat untuk Anda...

PENGERTIAN, MACAM-MACAM DAN CONTOH MAJAS

Majas adalah bahasa kias atau pengungkapan gaya bahasa yang dalam pemakaiannya bertujuan untuk memperoleh efek-efek tertentu agar tercipta sebuah kesan imajinatif bagi penyimak atau pendengarnya.

A. Macam-macam Majas Penegasan
Dan berikut ini adalah berbagai macam dari majas penegasan beserta contohnya :
  1. Majas Klimaks : Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat. Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
  2. Majas Antiklimaks: Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun. Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya
  3. Majas Koreksio: Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
  4. Majas Asindeton : Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan. Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
  5. Majas Interupsi  adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
  6. Majas Eksklmasio : Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi. Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
  7. Majas Enumerasio : Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
  8. Majas Silepsis dan Zeugma : Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
  9. Majas Apofasis atau Preterisio : Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
  10. Majas Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contoh: Saya naik tangga ke atas.
  11. Majas Aliterasi:  Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
  12. Majas Paralelisme: Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
  13. Majas Tautologi: Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului. Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
  14. Majas Antanaklasis adalah yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
  15. Majas Anastrof atau Inversi : Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan. Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
  16. Majas Retoris : Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
  17. Majas Elipsis: Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
  18. Majas Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
  19. Majas Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
  20. Majas Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
  21. Majas Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
  22. Majas Sigmatisme: Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu.
  23. Majas Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.
B. Macam -macam Majas Perbandingan
Dan berikut ini adalah berbagai macam dari majas perbandingan beserta contohnya :
  1. Majas Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku atau Mampirlah ke gubuk saya (Padahal rumahnya besar dan mewah)
  2. Majas Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.ah mencapai langit. Contoh: Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
  3. Majas Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Atau yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Contoh: Hujan itu menari-nari di atas genting
  4. Majas Simile : Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, ” umpama”, “ibarat”,”bak”, bagai”.  Membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
  5. Majas Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
  6. Majas Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
  7. Majas Sinestesia: yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
  8. Majas Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
  9. Majas Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. contoh:Indonesia bertanding volly melawan Thailand.
  10. Majas Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. contoh:Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
  11. Majas Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
  12. Majas Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. contoh:Perilakunya seperti ular yang menggeliat.
  13. Majas Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
  14. Majas Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
  15. Majas Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. contoh:Kita bermain ke rumah Ina.
  16. Majas Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
  17. Majas Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
  18. Majas  Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya
  19. Majas Antonomasia: Adalah yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
  20. Majas Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
  21. Majas Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Contoh:Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah (Motor merk Jupiter)
  22. Majas Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
  23. Majas Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
  24. Majas Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.
C. Macam-macam Majas Pertentangan
Dan berikut ini adalah berbagai macam dari majas pertentangan beserta contohnya :
  1. Majas Oksimoron : adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
  2. Majas Antitesis : Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
  3. Majas Anakronisme : Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu. Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
  4. Majas Paradoks : Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
  5. Majas Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
  6. Majas Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.
D. Macam-macam Majas Sindiran
Dan berikut ini adalah berbagai macam dari majas sindiran beserta contohnya:
  1. Majas Sinisme : Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
  2. Majas Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll. Ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
  3. Majas Innuendo: Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
  4. Majas Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
  5. Majas Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.  Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Contoh: Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga
Itulah penjelasan pengertian, macam-macam, dan contoh majas dalam Bahasa Indonesia. Semoga bermanfaat untuk Anda...

CERPEN " HUJAN" KARYA SUTARDJI CALZOUM

HUJAN
Karya: Sutardji Calzoum

***
cerpen hujan karya Sutardji Calzoum

Hujan menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan Ayesha, gadis enam belas tahun yang tadinya nyenyak lelap di kamar.“Alhamdulillah hujan,” bilang Ayesha sambil turun dari ranjang dan melangkah ke ruang depan. Ayesha memang senang pada hujan.

Jika hujan datang, ia serasa kedatangan teman yang akrab. Tapi, Ayesha tak membukakan pintu bagi sahabatnya itu. Ia hanya menyibakkan gorden di ruang depan dan dari kaca jendela diamatinya hujan di halaman. Ia juga tak mengucapkan selamat datang. Buat apa, hujan selalu selamat. Kalau kata-kata semacam itu diucapkan bakal berlebihan, pikir Ayesha.

Bermula karena merajuk pada matahari, ia beranjak senang pada hujan. Itu ketika masih usia sekitar lima tahunan, ketika ikut-ikutan ibunya memindahkan anak tanaman suplir ke halaman yang lantas remuk redam dibantai panas siang.

Kini, sudah lama ia tak benci matahari, tapi tetap saja ia lebih senang pada hujan. Dari hari ke hari, dari hujan ke hujan ia selalu semakin senang pada hujan. Di kelas, jika hujan datang ia selalu menatap ke luar. Guru mula-nula kesal, tapi akhirnya dibiarkan. Bagaimana pun, ia anak yang pintar. Ayesha selalu masuk dalam rangking terbaik di kelasnya.

Tidak sekedar senang pada hujan, kemudian ia pun bertanya-tanya sendiri tentang hujan. Bukan cuma butir-butir air yang mengucur di langit. Bukan hanya butir-butir runcing di ubun-ubun ketika orang lewat di jalan. Pastilah ada sesuatu yang lain dari hujan, begitu pikir Ayesha. Lantas, setiap hujan datang ia selalu menyapa, apakah hujan. Hujan menjawab dengan hujan. Dengan gemericik air, dengan gemertap di atap, dengan butir-butir dingin dan segar yang bersambungan sampai langit.
***
Kini, dalam jenjang usia enam belas, bagian-bagian tubuhnya elok membesar, bersama hati dan pikiran yang ikut berkembang. Dari hujan ke hujan, hujan semakin membukakan diri selapis-selapis padanya. Dan ia mulai semakin paham hujan. Lewat kaca jendela, ditatapnya hujan yang sedang membukakan makna. Butir-butir air lebat bersama angin menyibakkan dedaunan di halaman, dan pada dedaunan itu hujan menjadi dedaunan hujan. Deras hujan meniti-niti pagar dan pada pagar itu ia menjadi pagar hujan.

Lihatlah, hujan meloncat-loncat dari ranting ke ranting dan menjadi ranting hujan. Hujan pun berkisar dan mengusap-usap mawar, dan pada mawar itu menjadi mawar hujan. Lantas, pada buah jambu hujan menggelembung dan menjadi buah hujan.

Ayesha ingin memetik buah hujan tanpa menanggalkan jambu. Ia ingin meraih mawar hujan tanpa mengganggu mawar halaman. Ia ingin meniti dahan dan menyibak-nyibak ranting hujan tanpa mematahkan ranting dan membebani dahan itu. Ia ingin berjingkat pada pagar hujan tanpa menginjak besi pagar. Ia ingin, tapi ia tak mau membuka pintu melangkah ke luar dan masuk ke dalam hujan.

“Buat apa?bercakap-cakap dengan hujan, memetik hujan, bukanlah harus berhujan-hujan. Engkau memetik makna ucapan orang, tidaklah harus masuk ke mulut orang atau memetik lidahnya,” bilang Ayesha.
***
Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan yang di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Jangan engkau bilang bunyi hujan. Hujan bukan sekedar gertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha, hujan adalah ucapan yang mendedah sastra, nyanyi, musik, atau tari. Lihatlah, hujan menyibak-nyibakkan tarian pada dedaunan dan melentun anggun pada dahan dan batang.

Terpagut pada tari hujan, Ayesha mulai bersijingkat ke tengah ruangan dan segera melangkahkan tarian. Bagai angsa mengarungi telaga, ia pun asyik melayarkan tari. Ah, tidak tepat benar seperti angsa. Angsa tak pernah basah dengan tarian, sedangkan Ayesha melulu basah dengan tarian. Namun, jika engkau cicip tengkuk atau sikunya, kau takkan merasakan asin keringat di sana. Arena yang basah itu hujan.

Ia telah menjadi hujan sekarang. Ia menderas dari pojok ke pojok ruangan menarikan hujan. Bila piroutte ia putarkan, hujanlah yang memutarkan. Sesaat ia tegak tenang, membuat batang hujan dari lekuk tubuhnya dan membiarkan rintik-rintik tari merajut-rajut rambut hujan di tengkuknya. Lantas, jari-jemari kakinya meniti-niti tari sambil membiarkan tempias tari di lantai. Maka, lantai ruangan ikut basah dengan tarian. Lihatlah, ia menekukkan lutut dan tangan anggun tarinya memetik kuncup hujan yang perlahan-lahan berkembang menjadi mawar hujan ke seluruh badan. Lalu, datanglah kupu-kupu hujan dari negeri yang jauh menangkup telinganya, membuahinya dengan rintik-rintik musik dari negeri kekal yang dekat sekaligus jauh.

Kini, Ayesha telah memiliki buah dan mawar hujan. Sekarang ia telah sampai pada kematangan hujan. Jika tarinya membelai mawar hujan, hujanlah yang membelaikannya. Bila ia memetik musik hujan, hujanlah yang memetikkan.
***
Dalam puncak hujan tarinya itu, tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Ayesha tersentak, dan putuslah tarian. Ibunya pulang dari super market terperangah sesaat melihat lantai basah dan Ayesha yang tertegun bagaikan patung yang masih menangkap sisa hujan.

Ibu memandang langit-langit. Kering, tak ada basah di sana. Ia pun tersenyum, lantas ia letakkan plastik belanjaan di sofa dan pergi mengambil handuk di kamar.

“Rupanya engkau mengembara lagi, Ayesha,” ujarnya sambil mengelap tubuh anaknya yang masih terpancang diam dan menyimpan hujan. Dan gumpalan jari-jemari katun handuk itu perlahan-lahan mengembalikan Ayesha pada dunia yang kering kerontang.
***

CERPEN "SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN" KARYA KUNTOWIJOYO

Sepotong Kayu Untuk Tuhan
Oleh: Kuntowijoyo
Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.
Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.
Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.
Aku bukan pemalas, pikir lelaki tua itu. Aku anak cucu mereka yang suka kerja keras. Aku rajin, dari ujung kaki sampai ujung rambut! Ia menyedot rokok pipa dalam-dalam. Tapi buktikanlah, Kakek, tiba-tiba ia berpikir-pikir. Ya, berkata itu mudah. Bukti itu sulit. Namun ia tak tahu kerja apa yang dapat dikerjakan pada saat seperti ini. Katakanlah, misalnya kayu bakar. Kayu bakar telah bertumpuk di dapur. Ia sendiri menumpuknya. Atau menyapu halaman. Sia-sia saja, tak seorang pun akan melihat rumahnya. Rumahnya cukup terlindung dari mata orang.
Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, ia berseru. “Celakalah yang menyiakan waktu!”. Ia ingat. Meski berbuat sesuatu. Berbaring bermalasan bukan pekerjaan muslim yang baik. Ia sudah mendengar kabar, orang kampung sedang mendirikan surau baru. Banyak orang telah menyediakan bahan. Telah terkumpul kayu, genting, kapur. Anak-anak madrasah mencari batu dan pasir ke sungai. Pantashkah baginya, muslim seumur hidup untuk bermalasan? Tidak. Berbaktilah kamu dijalan Tuhan dengan harta dan jiwamu! Ia gelisah. Kalau istrinya dirumah ia bisa mufakat. Seluruh kekayaannya, yaitu uang untuk makan, semuanya ada pada istrinya. Padanya hanya tinggal bahan-bahan makanan secukupnya sampai istrinya pulang. Apakah yang akan disumbangkan untuk pembangunan rumah Tuhan itu? Apakah karena istrinya tidak dirumah ia akan melewatkan kesempatan beramal? Tentu saja tidak. lelaki tua itu pun berpikir. Sebenarnya, pikirannya bisa pula jernih, hanya kebiasaan mendapatkan damprat dari istrinya telah membuatnya takut berpikir. Berpikir itu menyusahkan bagi lelaki tua macam dia.
Jadi, ia berdiri. Melepaskan pandangan keseluruh alam-rumah dan pekarangannya itu disebutnya seluruh alam dan turun dari serambi. Panas matahari mempermainkan daun-daun yang lincah oleh angin. Sekali-sekali berkas sinar jatuh ke punggung, menyengat. Ia senang. Menikmati kebebasannya dengan berjalan berjingkat, melangkahi tanaman sayur. Istrinya akan mengumpat kalau ia dirumah. Selalu ia cerewet apabila dilihatnya ia berjalan disela tanaman sayur itu. Padahal dia sendirilah yang mengatur tanaman. Dibelakang rumah adalah sungai. Air yang mengalir tenang itu sangat mempesona. Mana ada kesempatan menjenguknya lama-lama kalau istrinya dirumah! Ia tak pernah jemu bermain disungai. Hanya karena larangan isterinya, ia tak lagi bersahabat dengan air. Nanti masuk angin. Juga ia tak lagi mengail. Mengail adalah kerja bagi pemalas. Kadang-kadang istrinya menyuruh dia mencari ikan bukan dengan kail, tetapi dengan jala.
Ia berhenti. Didepannya berdiri sebuah pohon nangka. Pohon itu telah mati. Kayu itu cukup besar. Tertanam dekat pinggir sungai. Pucuknya telah mengering, tidak ada selembar daun pun tinggal. Bagus! kayu ini pantas untuk pembangunan surau itu. Kayunya kuning mengkilat. Tidak lagi perlu cat atau pelitur. Pelitur, bolehlah, sedikit saja. Dan kayu itu akan ditebangnya sendiri. Mudah saja. Kayu dikapak sampai putus. Kulitnya dikupas. Didorong kesungai. Lewat sungai itu akan diangkutnya. Dari tepi sungai hanya perlu sebuah gerobak dorong untuk sampai ketempat surau itu dibangun.
Istrinya tak akan tahu semuanya. Sesudah dia pulang barulah tahu, pekerjaan apa yang telah dibuat oleh suaminya! Betapa senang ia nanti, seorang perempuan tua yang saleh. Kayu itu kita sumbangkan untuk pembangunan rumah Tuhan, istriku. Istri akan senang, memuji syukur. Pada saat-saat terakhir dari hidup mereka, masih sempat juga beramal.
Ya, dia sendirilah yang menanam pohon itu. Dia sendirilah yang menyiram dengan air sungai. Alangkah suburnya dulu. Ayahnya akan memerintahkannya memanjat apabil nangka itu telah berbuah masak. Kematian pohon itu tak perlu pula disesalkan. Pohon itu akan diletakkan disuatu tempat terhormat: Rumah Tuhan. Setiap hari akan disaksikan orang-orang memuji kebesaran Tuhan dan RasulNya. Itu akhir yang baik bagi sebuah kayu! Jauh lebih baik daripada masuk tungku. Apalagi tungku orang kafir, yang memasak rizki haram! Itu sudah wajar, pohon itu ditanamnya dulu dengan mengucapkan nama Tuhan lebih dulu. Sebuah pohon nangka yang ditanam dengan tangannya, dibesarkan dengan tangannya, dan ditebang dengan tangannya! Ia akan membuktikan dengan benda yang nyata, sekali dalam hidupnya dapat juga ia menyumbang untuk Tuhan.
Seharian itu ia merenungkan, apakah ia benar-benar akan sanggup menebang pohon itu dengan tangannya. Alangkah ebsar, ya, tidak dua kali keliling tangan, kalau selingkar tangan, ya  lebih. Menebang sendiri bisa juga, tetapi apakah tenaganya akan kuat? Mengupah orang, istrinya tidak meninggalkan uang sesen pun padanya. Hanya beras dan lauk secukupnya sampai istri itu pulang. Mengupah orang tak mungkin, apalagi memberi makan.
Melihat betapa besar pohon itu, ia mengurungkan niat untuk menebangnya sendiri. Ada cara! Dahan yang tak berguna baiklah diberikan pada penebang sebagai upah. Ia tak akan kehilangan apa pun kecuali kekotoran akibat tumpukan reranting dan dahan! Ia gembiram. Telah dibayangkannya dalam khayal. Isteri akan memuji-muji kebijaksanaannya itu. Amal yang demikian itu akan abadi. Pahalanya akan dihitung sampai bahan itu musnah. Seminggu lagi kalau ia dirumah akan diberitakan itu. Mula-mula akan diajaknya istrinya berkeliling kebun. Disuruh menerka pohon apa yang tidak ada. Nangka! Dan kemana pergi pohon itu? Tidak, istrinya tak akan tahu. Surau, istriku, rumah Tuhan! Ia akan tersenyum. Tidak, tak usahlah. Begitulah cara yang paling baik menyampaikan berita pada mbok cerewet itu.
Maka ia pun mencari tukang tebang. Dibuatnya perjanjian bahwa dahan-dahannya akan menajdi upah. Dan bersihlah pekarangannya. Tanah itu akan menjadi rata kembali. Penebang itu tahu maksud lelaki tua dan menolak untuk menerima upah, tetapi lelaki tua itu menerangkan, amal itu terletak dalam niat. Adapun kayu yang akan diperoleh, itu adalah sewajarnya dalam bertetangga.
Begitulah seorang laki-laki dengan ototnya yang besar-besar bekerja dipekarangan. Pagi sekali ia telah datang, menyiapkan kapak, tali-tali dan memanjat. Lelaki tua yang tidak bisa membantu apa pun. Ia tak bisa memanjat, lagipula istrinya memesan dia dengan sangat supaya dihindari memanjat sangat rendah sekalipun. Ia sendiri sadar, tangannya telah gemetar, tak bisa lagi kuat berpegang. Itu berbahaya, akan dapat mempersingkat umur. Ia melihat kulit penebang itu, kulit yang kecoklatan berkilau oleh matahari, suara kapak yang bergema. Seluruh alam mendengar. Barangkali malaikat Tuhan telah mencatat apa yang telah dikerjakannya hari itu. Setiap gaung kapak itu memberitakan pada lelaki tua akan amal yang dibuatnya. Tidak usah menyesal tidak dapat membantu-bantu. Orang pun tahu ia sudah tua. Cukuplah mengawasi. Hari pertama dari penebang itu dilaluinya tnapa dapat menyumbangkan tenaga.
Kayu itu akan membuatnya tersenyum pada hari kematiannya. Ketika itu boleh jadi tubuhnya telah hancur oleh tanah dikuburnya. Tetapi jelaslah, kayu itu masih akan tetap menjadi saksi, ia pernah hidup dan menyumbangkan sesuatu untuk surau. Tidak, bukan orang yang akan membuatnya senang, tetapi karena Tuhan sendiri melihat itu. Kalau saja mungkin ia akan menghindari penglihatan orang. Sebab, hanya Tuhan jugalah yang diinginkannya.
Disaksikannya ranting demi ranting jatuh dari pohon. Seperti itulah manusia. Satu per satu ia akan dikuburkan. Ranting jatuh itu masih pula dapat dipergunakan. Mereka dapat masuk api dan memberi panas pada dasar periuk atau memberi panas pada mereka yang kedinginan. Tetapi apa yang disumbangkan orang mati. Tidak satu pun. Bahkan orang akan menyusahkan tetangganya, karena orang-orang lain harus mengangkutnya ke kubur, memasukkannya keliang. Sesudahnya adalah tanggung jawabnya sendiri.
Hari berikutnya sudah mulai dapat membantu-bantu. Penebang itu sudah mulai menebang bagian bawah. Ranting-ranting sudah jatuh, berserakan. Sesungguhnya ia akan mengangkut kayu-kayu itu. Sekarang bolehlah kayu itu rebah dengan aman. Tak ada yang akan disangkutnya. Cabang-cabangnya telah bersih. Bisa saja sekarang, tergelimpang.
Dia pun ingin berbuat. Diingatnya ada kapak dirumah, kapak itu pertama-tama harus ditajamkan. Ya, ia mengeluarkan batu pengasah dan seember air. Aduh, tukang tebang itu melarangnya. Ia telah tua. Tetapi perlu diketahui bahwa untuk mengasah kapak dan memukul kapak itu pada pohon, bayi pun bisa dipercaya. Apalagi orang-orang tua! Keringatnya telah mengalir, ketika ia harus mengangkut air dari sumur. Dengan tenaganya dapatlah ia mempunyai sebuah kapak yang baik, mengkilat tajam, hanya besi tak terpatahkan oleh kapak semengkilat itu. Aduh celaka, penebang macam apa itu! Ia mengatakan kapak itu tidak akan mempan. Tentang kapak, penebang yang mana pun tak dapat mengalahkannya. Ia sudah merawat kapak-kapak sejak. Tak sangsi lagi, kapak itu pasti yang setajam-tajamnya didunia.
Itulah sebabnya ia berjuang keras melawan ketuaannya sendiri. Ia mengayunkan kapaknya keras-keras, sehingga badannya sendiri terguncang. Penebang itu merasa terganggu dan mengatakan padanya kalau bukannya kayu yang akan putus, hanya tubuhnya saja yang kehabisan tenaga. Lagi pula kapaknya tak mengena sasarannya. “Jangan kau pukulkan kapak itu lurus, Pak. Agak miring sedikit,” kata penebang itu. Ya, soal cara menebang bisalah dia memperbaiki. Tetapi untuk menghentikan pekerjaan itu, jangan berani. Ia buktikan lelaki tua bukannya pemalas yang selalu menggantungkan hidup pada orang lain. Pahala yang didapatnya mengantarkannya sampai akhirat. Dan, mana bisa istri akan mengumpatnya dengan: pemalas. Menyumbangkan pohon nangka kekuningan, bercahaya dalam sinar matahari. Dia akan dapat berkata tentang pohon nangka itu: itulah yang ditebang dengan tanganku.
Ia merasa telah bekerja dengan sangat keras, tak seorang pun menyuruhnya. Pada hari ketiga dari pekerjaan itu, ia bangun pagi-pagi. Betapa senang ia ketika penebang itu datang dan dia dapat menunjukkan hasil tebangannya. Kapak itu telah diayunkan begitu kuatnya, membuat bekas yang dalam. Penebang itu mengatakan, “kayu ini digigit nyamuk atau ditebang dengan kapak?” Tentu saja ia keliru, tidak pernah menghitung bahwa nyamuk tak sekalipun mau menggigit pohon nangka. Ya, tentu kapak! Penebang itu tersenyum: “Sudahlah, Kakek. Sudahlah, Bapak. Sudahlah, apalagi dikatakannya. Tidak, itu kayunya sendiri. Penebang itu memberi contoh padanya bagiamana menebang dengan cara yang betul. Dan alangkah besar bekas tebangan itu! Lelaki tua tersenyum,; “Itu karena kapakmu yang tajam! Dan tenagamu yang segar. Cobalah kalau kau sudah kerja sejak pagi!”
Mundur? Tidak, sekali-kali tidak. Istrinya akan benar kalau ia tak meneruskan kerjanya. Siapa pun yang mau bekerja bukannya pemalas. Jangan menilai seseorang dari hasilnya, tapi dari niatnya. Dan ia berniat menebang habis pohon nangka itu! Sesungguhnya perbuatna itu dihitung dari niatnya! Ia mengulang lagi dari niatnya. Cobalah ingat, ia mulai lebih pagi daripada penebang sebenarnya. Dan tenaganya pun lebih banyak keluar. Perkara keringat, itu karena penebang lebih banyak minum. Dan, apakah kerja diujur dengan banyaknya keringat yang keluar. Itu sungguh tidak jujur. Dapat saja keringat bercucuran tanpa bekerja.
Ia akan berusaha sungguh, supaya hanya Tuhan yang tahu kalau ia telah menyumbangkan kayu itu untuk surau. Maka ia pun berpesan pada penebang jangan membocorkan rahasia itu. Beramal baik ialah bila tangan kananmu mengeluarkan, tetapi bahkan tangan kirimu tak melihatnya! Tak perlu seorang pun tahu. Ia dan penebang itu telah berjanji supaya kayu itu datang dengan tiba-tiba saja dipembangunan surau seolah-olah datang dari langit. Alangkah bijaksana pikiran itu! Asal jangan ada perempuan cerewet yang disebut istri itu, pastilah akalnya menjadi jernih. Pada hari gelap yang tak seorang pun akan tahu, kayu itu akan terdampar disurau. Pada balok itu nanti dia akan menuliskan: Sepotong kayu untuk TUhan. Dengan arang saja, itu cukup baik. Kayu yang tiba-tiba datang itu akan membuat seluruh kampung terkejut. Dan siapakah orang yang berpikiran bahwa dialah penyumbang yang tak mau menyebut nama itu. Tidak seorang pun. Hanya Tuhan dan malaikatNya! Kebanggaan yang terpendam lebih baik dari kebanggaan yang terbuka. Kebanggaan yang terpendam membuat orang tertawa. Dan senyum lebih abadi dari tertawa.
Keinginannya supaya kayu itu cepat selesai tak tertahankan. Ia tak tahu lagi umurnya, berat badannya, jumlah tenaga yang dia punya atau yang telah dikeluarkannya. Ia melambung seperti dalam sebuah mimpi yang senikmatnya. Keringat mengalir dari kulitnya. Penebang itu menegurnya. Ah, masih perlukah dia diperingatkan apa-apa oleh siapa-siapa pada umurnya yang telah lanjut itu? Tidak. Istrinya atau penebang itu tak ada hak apa pun untuk mengingatkan dia. Pikirannya adalah satu-satunya pertimbangan. Kebaikan harus dikerjakan bagaimanapun akibatnya. Dia tahu apa yang bisa dan tak bisa dikerjakannya. Dan berhak sepenuhnya akan dirinya sendiri. Sayang, tubuhnya tak dapat mendukung kemauannya. Pada siang hari itu juga, keringat banyak mengalir dari tubuhnya. Dan, ia pingsan.
Ketika lelaki tua itu menyedari dirinya kembali, orang banyak berkerumun. Tidak, tak apa-apa. Maka lelaki tua itu mengusir mereka yang berkerumun. “Pergi tak adaada apa-apa. Hanya mengantuk sedikit, untuk apa kalian datang.” Mereka pun pulang.
Aduh, pastilah penebang itu telah membocorkan maksudnya itu pada mereka yang datang. Tidak, Kakek. Nah, itu baik. Rahasia itu akan bocor kalau Kakek bekerja lagi. Sebab ia akan jatuh pingsan lagi dan orang akan datang lagi. Dan menanyakan untuk apa kayu itu. Jadi, penebang itu menganjurkan untuk tidak lagi bekerja. O, ya. Siapa pun yang mengatakan, kalau perkataan itu bagus pantaslah dikerjakan.
Sejak saat itu ia tak menyentuh lagi kayu itu. Seluruhnya terserah pada penebangnya. Pohon itu tumbang. Penebang itu menjadikannya balok persegi panjang yang kuning keemasan. Tak perlu menyesal lagi tidak ikut mengerjakan. Ia sudah berusaha. Yang penting, sekarang, ialah merencakan segalanya. Itu perlu pemikiran seorang berpengalaman. Dialah orangnya yang harus memikirkan. Perkara mengangkat-angkat cukuplah pak penebang, itu memang kerjanya. Hanya sedikit kecewa, ia tak akan bisa mengatakan bahwa dia sendirilah yang telah merobohkan makhluk kuning itu. Biarlah, masih banyak yang akan dikerjakannya dengan kayu itu. Ada lagi, yaitu mendorong sampai tepi sungai dan menghanyutkan.
Lelaki tua itu bersepakat untuk menghanyutkan kayu itu pada sore hari setelah matahari tenggelam. Diseberang timur akan ditaruhnya kayu itu dna pagi-pagi sekali penebang itu akan membawa gerobak dorong. Pagi sekali, sehingga makhluk Tuhan sebangsa manusia tak akan melihatnya.
Sore hari, langit telah memerah dibagian barat. Awan tebal menutup matahari. Tetapi dari sela-selanya membersit cahaya merah yang berninar-binar menyerbu langit. Kedua orang itu berusaha menggulingkan kayu itu ketepi sungai. Dengan tongkat-tongkat besar dari kayu, mereka berdua mendorongnya. Goresan yang dalam, membekas-bekas pada tanah yang terlewat. Sebentar-sebentar akan terdengar teriakan dari mulut tua itu: Bagus! Setiap gerakan akan diberinya aba: Ana ini ning! Dorong! Nah, sangat bagus. Istirahatlah sebentar.
Matahari tidak ada lagi. Hanya kemerahannya masih tergambar dilangit. Maghrib, bisa ditunda sebentar. Keduanya mengikuti kayu itu. Masuk air. Taklah sulit bergaul dengan air sungai. Keduanya anak-anak desa yang bersahabat dengan air sejak Ibu mereka memandikanya yang pertama. Ada bayangan merah dalam air yang terguncang dan hilang. Air sungai itu ialah yang setenangnya yang pernah dia kenal. Agak dalam, membasah lebih sedikit dari perutnya. Balok kuning menghanyut dengan lena dipermukaan air. Tangan-tangna mereka menjaga arah. Arus dapat dengan mudah dihindarkan.
Bagian ini adalah tempat yang paling sepi dari dusun. Tak akan ada seorang pun melihatnya. Jauh disana terdengar suara riuh anak-anak. Tuhan, janga biarkan anak-anak itu sampai sungai! Sepotong kayu ini semata-mata untukMu. Aduh, mereka mendekat kesungai itu! Apa kerja mereka gelap macma ini kesungai, anak-anak tak tahu aturan! Dan, mereka berkerumun dipinggir, menonton. Mereka bertanya. Bah! Mereka mencopot pakaian, masuk ke air. Lelaki tua itu kebingungan. Anak-anak itu dibujuknya: “Sudah gelap macam ini, pulanglah.” “Kami akan naik kayu ini, Kek” Wah, anak-anak nakal! Air berkecipak kesana kemari. Kepala, rambut, telinga, dan sekujur badan tua itu tertampar air. Seperti air es, dinginnya? Anak-anak itu kegirangan. Ya, asal jangan bertanya untuk apa! Mengusir anak-anak? Tidak. Anak-anak itu naik baloknya. Kayu itu timbul tenggelam dalam air. Lelaki tua itu ingat, kenapa ia tidak ikut naik, toh bisa saja Pak Penebang itu disuruhnya mengatur arah dan dia naik. Kepinginnya seperti anak-anak itu ditahannya. Itu akan menertawakan. Anak-anak itu membasahi tubuhnya. maka, ia pun membalas mereka. Mereka membalasnya. Riuhlah sungai itu. Dalam gelap keramaian itu seperti suara-suara setan dalam gerumbul pohonan. Kecipak air mengalahkan suara malam: binatang-binatang entah dimana dalam tanah disela rerumputan menyembunyikan suaranya yang tenang dan terus-menerus. Suara-suara itu berseling dengan suara air dan teriakan anak-anak. Yang penting, ialah tetap membungkam pada anak-anak. “Bukan untukmu, Buyung, aku menebang pohon. Sebagai ganti jawaban, lelaki tua itu menakuti mereka dengan banjir”. Lihatlah, alangkah mendungnya. Terbawa banjir nanti, kalian. “Tak apalah, Kek. Kami ingin melihat laut”. Dasar anak-anak dusun nakal! Diingatnya, seperti itu jugalah masa kecilnya. Orang-orang tua adalah pemaaf-pemaaf. Ia menjadi senang dengan kehadiran anak-anak itu. Akhirnya anak-anak itu bosan juga. Mereka kembali ketepi, mengenakan pakaian, dan kabur dalam gelap pohonan.
Ketika itu tak ada cahaya merah pun di air dan dilangit, sampailah iringan itu kesebuah tempat, dekat dengan jalan ke desa-desa. Disitulah mereka aka berlabuh. Tidak terlalu sulit meminggirkan kayu itu. Untuk apa laki-laki kalau tidak bisa mengurus sepotong kayu! Mereka meminggirkan, diatas tanah berpasir itu mudah saja menarik dengan tali. Seperti kereta yang berjalan diatas tanah. Ya, kayu itu telah bergelimpang disana. Diatas pasir yang lembut. Selamat tinggal, kayu. Sampai besok pagi.
Menjelang malam, lelaki tua telah menyiapkan makan. Alangkah nikmat makan sesudah kerja keras. Dan lagi kegembiraannya yang besar. Siapakah yang menikmati makan dalam keadaan gembira. Pohon angka itu telah disana, dipinggir sungai. Makanlah selahapnya! Segera saja matanya mengantuk bukan main. Badannya dingin, segar. Enaknya tidur ialah dalam keadaan lelah. Segera saja tertidur: surau, balok kayu, penebang, istri, anak-anak, sungai. Ia tersenyum dalam pejam mata.
Inilah rencananya, yang sebentar diingatnya sebelum tetap yang pertama. Ia harus bangun pagi-pagi. Langsung saja ketepian sungai itu. Kemudian akan datang penebang dengan gerobak. Mereka akan mendorong gerobak itu bersama. Dan sebelum orang terbangun, kayu itu telah tersedia didepan gungukan tanah bakal surau itu. Tetapi hanya Tuhan dan malaikatNya yang akan dapat menjawab. Tidurlah.
Malam menjadi dingin. Udara lembab. Suara desir air sungai terdengar pelan. Ada suara-suara yang sangat dikenal: binatang-binatang malam di tanah, di rumputan, di air, di pohon, di udara. Pohon dusun merunduk dalam gelap. Makhluk inilah yang lebih banyak menggambarkan malam hari. Tenang dingin, daunan tertunduk. Seperti dunia ini adalah gundukan tanah dan tetumbuhan yang terlupakan. Tidak ada kehidupan diluar rumah.
Lelaki tua itu biasa bangun tepat pada waktu yang direncanakan. Orang tua dapat berbuat itu. Sarung dikerubutkan di tubuhnya, ia pun melangkah ke luar. Sesungguhnya tak akan ada yang melihat. Dia kenal betul dusunnya. Dengan mudah akan dicapainya pinggiran sungai itu. Kayu nangkaku, sebentar lagi, aku datang padamu.
Ada sebuah suara, apakah itu? Oh, kelontang gerobak. Sedikit kurang hati-hati penebang itu. Hati-hatilah, jangan dibangunkan orang. Kemudian dia senang setelah ternyata hanya sebentar gerobak itu terdengar. Dia masih juga menyesali itu, tapi tentulah bukan kesalahan pak penebang. Bagaimana pun hati-hatinya kau mendoorng, dibelokkan itu pasti berbunyi juga, banyak batu-batu menyembul dari tanah. Baiklah tidak ada suara-suara orang terbangun. Disini tempat masih akan sepi sampai orang bangun mengambil air ke kali, untuk mencuci atau mandi. Ya, lelaki tua itu sejak menjadi lebih tua, tidak lagi tahan air kali mengalir dingin ditubuhnya dalam udara pagi. Kalau dia kanak-kanak dan bukan lelaki tua, pasti dia akan merenangi sungai pagi itu.
Ia ingat istrinya. Juga andaikata dia dirumah menjelang subuh begini, dia akan membangunkannya. Sembahyang, pak muslim. Tuhan menunggumu. Panjangkanlah umurku, dalam ketuaan yang sehat. Pagi itu dia merasa sangat sehat. Sedikit pun tak ada dingin dalam tubuhnya. Itu berkat sarung, berangkali. Ya, tetapi juga, kegembiraannya menghilangkan rasa dingin dan segalanya! Lebih penting dari dingin adalah sepotong kayu.
Dia bayangkan bagaimana surau itu, dimana letak kayu dari pekarangan itu diletakkan. Tentu, orang akan suka lama-lama tinggal disurau. Kalau dipikir, tidak ada yang istimewa: Kayu itu tumbuh dari bumi Tuhan, dan sekarang kembali keapda Tuhan. Ketika itu dia masih kecil, bermain-main panjat diatas nangka. Alangkah baik dahan-dahan nangka itu dahulu untuk dipanjat. Sekarang, telah menjadi sebuah balok. Tentu kuningnya akan mengalahkan gelap malam.
Sementara orang kampung terkejut melihat kayu yang tiba-tiba datangnya itu, ia akan merokok pipanya di rumah. Lama-lama ia akan menghisapnya. Ya, kayu itu datang dari kebunku. Tetapi kalian tak boleh tahu. Kemudian kayu itu dipotong-potong jadi kecil. Atau, bukankah lebih baik digergaji besar-besar untuk tiang utama yang empat buah itu? Sesuka oranglah. Sebab, setelah kayu itu lepas dari tangannya, tak ada haknya lagi.
Kalaulah ia punya lebih banyak dari itu, akan dibawanya semua ke surau. Dipekarangannya hanya terdapat rumpun bambu dan sayuran. Seharusnyalah ia malu, hanya sedikit itulah yang dikembalikannya kepada Tuhan.
Tiba dijalan dekat pinggiran dusun, ia terus menuruni jalanan kesungai. Wah, nanti harus mendorong kayu itu lewat jalan menanjak macam itu. Ia banyak menyimpan tenaga setelah tidur yang lelap semalaman. Gerobak itu semakin dekat, menuruni juga jalanan ke sungai. Dia ingin lebih dulu sampai, itulah sebabnya ia cepat berjalan. Jelaslah yang akan dikerjakan. Menatap kayu itu sampai lama, sebagai ucapan selamat jalan. Dalam gelap dipinggir sungai seperti upacara terakhir pemberangkatan prajurit kemedan perang. Ataukah seperti penguburan. Aduh, tololnya, pelupa! Engkau lupa menyediakan arang untuk menulis alamat kepada siapa kayu itu diberikan. Tololnya! kembali? Itu lebih tolol lagi. Pelupa ialah yang sejelek-jeleknya orang! Patut, ia memukul-mukul kepalanya. Jangan keras, nanti pening, Pak. Biarlah.
Langit masih juga gelap sebentar lagi fajar. Itu subuh akan tiba. Tanah dikakinya agak dingin, ya dekat sungai, basah. Ia terus melangkah. Gerobak itu mendekat, dibelakangnya. Tiba pada bagian yang terbuka, inilah tepian sungai. Masih gelap matanya tak begitu terang. Ia mengusap matanya, mengusap sampai terang, tetapi masih juga gelap. Atau memang masih terlalu gelap. Ah, mata tua, mata tua.
Kayu itu tidak nampak. Dimana? Matanya! Pak Penebang itu datang. Agaknya telah terjadi sesuatu? Gerobak itu berhenti dekat pinggiran sungai. Kesinilah! Tetapi sulit sampai kepinggirnya. Tanah itu terlalu lunak. Dinginnya tnaah! Mana kayu itu? Haruskah mereka menanti fajar? Ya, baiklah begitu. Mereka pun berdiri saja dipinggiran sungai, tak nampak juga kayu itu. “Mana kayu itu, Pak Penebang?”. “Mana kayu itu, Kakek”.
Tidak ada lagi. Ketika cahaya fajar pertama datang dari celah langit, tahulah mereka kayu itu tak ada lagi. Ditepian sungai banyak sampah menambat. Dicari, dicari! Tidak usahlah. Jelas, telah banjir semalam. Kayu itu hanyut. Tuhan! Sampai kepadaMukah?

Lelaki tua berdiri. Penebang berdiri. Sesuatu telah hilang. “Tidak, tak ada yang hilang” kata lelaki tua itu. Pak Penebang mendorong kembali gerobak. “Kakek, kita pulang”. Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Tersenyum. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Contact Us

Name

Email *

Message *