MUNCULNYA ISME-ISME BARU

Muncul dan Berkembangnya Isme-isme di Dunia

Sebelum membahas tentang pengertian tentang masing-masing isme-isme serta tujuan yang ingin dicapai dari setiap pemikiran dan faham tersebut, maka kita perlu melihat ke belakang lagi yakni pada masa Peradaban Barat (Eropa), bagaimana proses terbentuknya peradaban barat sampai menuju imperialisme modern.Hal ini bertujuan agar kita mengetahui bagaimana proses munculnya isme-isme yang sekarang ini banyak digunakan sebagai landasan atau ideologi suatu bangsa di seluruh dunia.

Di mulai dari proses terbentuknya peradaban barat (Eropa) yang dibagi menjadi tiga zaman yakni : Zaman klasik, Abad Pertengahan, Abad Modern.
  
 Zaman klasik sudah ada  di Dunia Timur, yang memberikan kontribusi penting dalam peradaban Timur. Kontribusinya menyangkut berbagai Ilmu Pengetahuan seperti dalam bidang Astronomi  dan Astrologi. Hal ini terbukti pada zaman klasik, di Mesir sudah bisa mengantisipasi terjadinya banjir melalui ilmu Astronomi. Begitu pula dengan filsafat yang pada saat itu mengalami perkembangan yang luar biasa, tidal ada batasan bagiseseorang untuk berfilsafat apabila ia benar-benar memiliki dasar dalam mengenai pemikiran yang ia munculkan sampai pada akhirnya melahirkan pemikiran-pemikiran baru yyang berguna bagi kehidupan manusia terutama tentang hakekat manusia itu sendiri. Contoh tokoh-tokoh filsuf antara lain Thales, Parmindes, Sokrates, Plato, Aristoteles, Deskates, John Locke, Feurbach, Hegel, Karl Marx sampai A. Comte, dimana setiap filsuf tersebut memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang menafsirkan sesuatu misalnya sejarah. Sebenarnya pemikiran – pemikiran mereka pada saat itu sudah menjadi angan-angan, namun sebagaian besar masih belum dilahirkan, maksudnya di Implementasik. Yang sudah di implementasikan hanyalah feodalisme yang berlangsung pada masa kerajaan Romawi dan Yunani seperti kerajaan Sparta.
Batas antara zamam klasik menuju zaman pertengahan ditandai dengan adanya keruntuhan kekaisaran Romawi Barat pada tahun 476 M. Abad pertengahan berlangsung selama 10 abad. Abad perttengahan merupakan kontinuitas (kesinambungan) antara jaman klasik menuju jaman modern. Namun ada pendapat lain tentang abad pertengahan yang menyatakan bahwa batas antara jaman klasik dengan jaman modern ini diandai dengan adanya penemuan benuua baru yang di temukan oleh Columbus.
Perlu diketahui bahwa pada abad pertengahan ini, ilmu pengetahuan mengalami kemunduran, bahkan tidak dapat dapat berkembang. Hal ini dikarenakan pada saat itu, geraja memiliki kekuasaan yang mutlak. Bahkan banyak mengandung unsur eksploitasi terhadap sumber daya alam yang ada di Eropa pada saat  itu. Semua kegiatan sehari-hari masayarakat pada saat itu diatur oleh Gereja, bahkan masyarakat pada saat itu ketika ingin berdoa, mereka masih dibatasi. Ketika mereka ingin berdoa, memohon apapun dari Tuhan, mereka harus melalui perantara seperti Paus dan setiap selesai berdo’a, mereka harus mempersembahkan harta mereka untuk diberikan kepada Gereja dengan asumsi imbalan tersebut sebagai imbalan kepada Tuhan setiap do’a yang ia panjatkan kepada Tuhan. Padahal pada kenyataannya, harta utersebut digunakan para Paus untuk keperluan sehari-hari bahkan tidak jarang dari mereka hidup secara bermewah-mewahan karena uang yang didapat dari sumbangan dari orang-orang yang berdoa di gereja sangat banyak.
Pada zaman ini manusia tidak diberi kebebasan, terutama kebebasan untuk berfilsafat. Namun lama-kelamaan perilaku para Paus pada saat itu terlihat oleh masyarakat sampai pada akhirnya mereka merasa jenuh tentang berbagai kebijakan yang berlangsung pada saat itu, sehingga mendorong masyarakat eropa untuk melakukan suatu perubahan. Maka dari itu, lahirlah zaman modern sebagai suatu perubahan yang lebih baik dan bentuk prostes sekaligus bertujuan untuk menghancurkan kepemimpinan geraja yang dilakukan melalui proses reformasi yang dikenal dengan sebutan reformasi Gereja.

1        1. FEODALISME

Dari pernjelasan di atas, secara tidak langsung terdapat praktek feodalisme, dimana feodalisme itu sendiri mengandung pengertian Dalam buku Filsafat Sejarah yang ditulis oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel, ia menjelaskan bahwa feodalisme mulai berkembang pada zaman pertengahan dimana terdapat reaksi bahwa para individu melawan otoritas yang sah dan kekuasaan eksekutif dari kedaulatan universal kerajaan Frank. Universalitas kekuasaan negara lenyap lewat reaksi ini : individu mencari perlindungan dengan kekuatan dan akhirnya menjadi penindas. Jadi secara berangsur-angsur melahirkan kondisi ketergantungan universal, dan hubungan perlindungan ini akhirnya disistematisasikan menjadi sistem feodal.
Feodalisme adalah sebuah sistem pemerintahan dimana seorang pemimpin, yang biasanya seorang bangsawan, memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan juga tetapi lebih rendah dan biasa disebut vasal. Feodalisme cenderung membunuh karakter orang lain, menjajah, menyalahkan orang lain, merendahkan, mencuri hak, dan merusak tatanan kehidupan. Salah satu kepositifan feodalisme hanyalah dapat memberi pekerjaan pada kalangan bawah, walaupun terkesan dipaksakan, namun hal tersebut menjamin kehidupan lapisan bawah. Karena manusia mulai mempertimbangkan untuk memproduksi kebutuhannya, manusia mulai membuat tempat-tempat produksi.
Namun, ketika semua tanah menjadi tempat produksi tanpa memperhitungkan tingkat konsumsi, maka banyak tempat produksi yang ambruk karena tidak adanya konsumen saat semua menjadi produsen. Dalam tempat produksi itu terdapat budak-budak yang dipekerjakan, sehingga saat suatu tempat produksi ambruk, tentu menimbulkan pemberhentian. Keadaan yang kacau seperti petani dan pekerja lain yang kehilangan pekerjaan ini kemudian dijadikan komoditi yang terkesan bahwa budak bisa diperjualbelikan.

2        2. LIBERALISME

Liberalisme berasal dari kata liber yang artinya kebebasan, dan isme merupakan suatu ideologi. Setelah melalui penderitaan rakyat akibat kaum gerejawan yang kian feodal dan ortodoks, dan melalui tahapan panjang sebuah feodalisme seperi yang telah dijelaskan oleh Hegel. Akhirnya seorang Marthin Luther memutuskan untuk melakukan koreksi gereja, dirinya mengeluarkan sebuah tulisan berisi kritikan pedas bagi para kaum gereja. Dan dari sinilah tsunami kebebasan mulai mendapatkan angin segar.
Koreksi gereja yang dilakukan Martin Luther memberi keberanian para kaum borjuis (kaum kelas tengah) dari beberapa negara untuk maju melawan keabsolutan seorang raja dan otoriter berlebihan sebuah gereja. Sebut saja John Locke dari Prancis dengan pemikiran demokrasinya, Immanuel kant dari Prusia dengan pemikiran besar Negara dan hukum, Thomas Jefferson yang berhasil membawa Amerika kearah kemerdekaan di tahun 1776, serta gerakan Liberalisme di Inggris tahun 1837—an di masa Ratu Victoria. Menjadi bukti bahwa besarnya pengaruh Liberalisme saat ideologi tersebut berusaha lahir dari rahim induknya, dan diperjuangkan atas dasar “kebebasan”. Banyaknya protes yang diajukan oleh rakyat dengan kaum borjuis sebagai pimpinannya, serta dibantu oleh Gerakan Renaissance yang kemudian berkembang pesat di Eropa membuat kekuasaan Gereja secara bertahap hancur.
3.   
2         3. DEMOKRASI

Demokrasi sangat erat kaitannya dengan liberalis, dimana liberalis itu sendiri merupakan faham yang mengutamakan kebebasan sebebas-bebasnya tanpa adanya undang-undang yang berlaku , sedangkan demokrasi itu sendiri merupakan kebebasan yang berdasarkan undang-undang. Jadi sebebas-bebasnya sesorang, tidak keluar dari undang-undang.
                   Secara etimologis, istilah demokrasi berasal dari Yunani, “ Demos” berarti rakyat dan “ kratos ” atau “ kratein “ berarti kekuasaan. Konsep dasar demokrasi berarti “rakyat berkuasa” (goverment of rule by the people). Istilah demokrasi secara singkat diartikans sebagai pemerintahan atau kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Menurut C.F. Strong, demokrasi diartikan sebagai suatu pemerintahan dimana mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta atas dasar sistem perwakilan yang menjamin bahwa pemeriintahan akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan kepada mayoritas iitu, sedangkan menurut Lincoln, demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, olehh rakyat dan untuk rakyat (govermennt of peopl, by the people, and for the people).
                   Istilah demokrasi semula dipakai di yunani kuno khususnya athena. Sistem demokrasi yang terdapat dinegara-kota (city-state) yunani kuno (abad ke-6 sampai abad ke-3 SM) merupakan demokrasi langsung yaitu suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan-keputusan politik dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negara yang resmi.
                   Demokrasi terbentuk menjadi suatu sistem pemerintahan sebagai respon kpada masyarakat umum di Athena yang ingin menyuarakan pendapat mereka. Dengan adanya sistem demokrasi, kekuasaan absolut atau satu pihak melalui tirani, kediktatoran ddan pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari.
                   Demokrasi memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat, namun pada masa awal terbentuknya belum semua orang dapat mengemukakan pendapat mereka melainkan hanya laki-laki. Sementara itu, wanita, budak, orang asing dan penduduk yang orang tuanya bukan orang Athena tidak memiliki hak untuk itu.

                   Menurut cara penyaluran kehendak rakyat, demokrasi dibedakan menjadi dua yakni demokrasi langsung dan demokrasi tidak langsung. Demokrasi secara langsung berarti faham demokrasi yang mengikutsertakan setiap warga negaranya dalam permusyawaratan untuk menentukan kebijjaksanaan umum negara atau undang-undang. Sedangkan demokrasi secara tidak langsung berarti faham demokrasi yang dilaksanakan melalui sistem perwakilan. Penerapan demokrasi seperti ini berkaitan dengan kenyataan suatu negara yang jumlah penduduknya yang semakin banyak, wilayahnya semakin luas dan permasalahan yang dihadapi semakin rumit dan kompleks.
                   Berdasarkan prinsip ideologi, demokrasi terbagi menjadi tiga yakni, demokrasi Konstitusional, demokrasi rakyat dan demokrasi pancasila. Demokrasi Konstitusional bisa disebut juga Demokrasi Liberal. Demokrasi konstitusional merupakan demokrrasi yang didasarkan pada kebebasan ataau individualisme. Ciri khas dari Demokrasi konstitusional adalah kekuasaan pemerintahannya terbatas dan tidak diperkenankan banyak ikuut campur tangan dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap warganya dan kekuasaan pemerintah dibatasi oleh konstitusi. Kemudian Demokrasi Rakyat merupakan demokrasi yang berhaluan Marxisme-komunisme. Demokrasi ini mencita-citakan kehidupan yang tidak menggenal kelas. Maka dari itu, demokrasi ini erat hubungannya dengan komunisme. Dan yang terakhir adalah demokrasi Pancasila yang bersumber pada pandangan hidup atau filsafat hidup bangsa indonesia yang digali darikepribadian bangsa itu sendiri.

4. KAPITALISME

è  Kapitalisme Klasik
Berdasarkan sejarahnya, kapitalisme merupakan bagian dari individualisme. Keberadaan Kapitalisme juga membawa dampak diberbagai bidang, seperti dalam bidang keagamaan yang menmbulkan Reformasi. Dalam hal penalaran melahirkan ilmu pengetahuan alam, dalam hubungan masyarakat melahirkan ilmu pengetahuan sosial, dan dalam ekonomi melahirkan sistem kapitalisme. Dari penjabaran di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kapitalisme merupakan sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari sekedar suatu tipe tertentu dalam perekonomian. Kapitalisme memiliki beberapa sifat dasar yang merupakan ciri kapitalisme sejak awal perkkembangannya, yakni pemilikan perorangan (individual ownership), Perekonomian pasar (Market ekonomi), dan persaingan (competition)

è Kapitalisme Modern
Pada abad ke-20, kapitalisme mulai menghadapi berbagai tekanan dan ketegangan yang tidak terfikirkan sebelumnya.Dalam perekonomian prakapitalis, persekutuan (partnership) menuntut tanggung jawab pribadi penuh dari setiap pihak dalam pengoperasian perusahaan. Kemajuan atau keberhasilan kapitalisme senantiasa diikuti oleh perombakanciri kelembagaan dan ideologisnya yang asli melalui proses permasyarakatan kerangka kerja perusahaan.

è  Kapitalisme dan Demokrasi
Kapitalisme sangat erat sekali kaitannya dengan demokrasi. Hal ini dapat dilihat dalam kenyataannya bahwa keduanya mula-mula berkembang disatu negara yakni Inggris.Sebagai negara demokrasi yang menganut perekonomian kapitalis, Inggris berhasil meraih kepemimpinannya atas dunia hampir selama abad ke 19 dan selanjutnya menyerahkan peranannya kepada AS pada abad ke 20. Jika terjadi kesimpang siuran mengenai arti kapitalisme, maka terdapat kesalapahaman yang lebih luas tentang demokrasi.
Sebagai suatu pandangan hidup, demokrasi memiliki beberapa unsur pokok, yakni:
1.   Empirisme Rasional, yang merupakan unsur yang penting dalam pandangan hidup yang bebas.
2.   Pementingan Individu, merupakan unsur yang secara mencolok membedakan demokrasi liberal dengan rezim otoriter atau totaliter.
3.   Teori Instrumental tentang Negara,yang memandang negara sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih luhur dari mekanisme itu sendiri.
4.   Prinsip Kesukarelaan, merupakan penggerak dan nafas kehidupan dalam masyarakat bebas.
5.   KonsepHukum dibalik hukum, secara langsung diturunkan dari pandangan konsesual negara dan masyarakat dalam liberalisme klasik.
6.   Pentingnya cara / prosedur dalam kehidupan yang demokratis didasarkan bahwa tujuan tidak dapat dipisahkan dengan cara / alat, tetapi merupakan perpanjangan/ persambungan dari alat tsb.
7.   Musyawarah dan mufakat, merupakan cara yang ditempuh oleh masyarakat demokrasi untuk mempertahankan berbagai pandangan dan kepentingan yang berbeda.

5.  NASIONALISME

Pengertian nasionalisme sering diartikan sebagai suatu faham mengenai negara kebangsaan. Kata nasionalisme berasal dari kata nation yang artinya bangsa. Istilah nasionalisme juga memiliki unsur psikologis yakni rasa setia terhadap kesatuan , dalam hal ini adalah unsur kebangsaan. Nasionalisme ini pertama kali muncul padazaman Renaisans     ( Ibid;hlm.74). Jika ditinjau dari sejarahnya, nasionalisme dibagi menjadi dua yakni nasionalisme kuno dan nasionalisme modern.  Pengertian  nasionalisme lebih spesifik pada proses terbentuknya sejarah dapat dilihat pada Eropa abad XV (MasaRenaisans).

Dalam konsep nasionalisme klasik, ada pula yang menyebut zaman Pra-Nasional, ikatan emosional yang melekat pada suatu bangsa yakni patriotisme, chauvinisme, dan nation yang sangat menonjol. Di Eropa sendiri yang telah lama mengenalnation atau bangsa itu masih terdapat patriot Breton di Perancis, Beiren di Jerman, patriot Skotlandia di tanah Inggris dan Patriot Friesland di Belanda. Mereka menganggap diri dan orang setanah airnya lebih unggul daripada bangsa lain (Noer Toegiman (Penerj.), loc.cit.). Ada yang berpendapat bahwa nation dibentuk oleh himpunan manuusia, yang ada kaitan darahnya, memiliki bahasa yang sama, serta mempunyai adat, tradisi, dan kebiasaan yyang sama.

Apabila kita mengikuti pendapat tersebut, Belgia bukan merupakan bangsa, sebab negara tersebut terdiri dari dua kumpulan manusia yang berbeda, yakni orang waal, yang berbahasa Peranncis dan orang Vlamming yang berbahasa Belanda. Sedangkan nasionalismme dalam arti modern, sangat berbeda dengan nasionalisme kuno atau klasik. Nasionalisme dalam arti modern memiliki arti karakteristik dalam kehidupan politik selama zaman industri (Henry S. Lucas,op.cit; hlm.817.). Unsur perasaan bernegara lebih intens dibanding  dengan rasa patriotirme. Terminologi nasionalisme dikaitkan dengan proses sejarrah Abad XIX dan dalam Abad XX tidak terbatas di Eropa saja, melainkan juga tersebar di seluruh penjuru dunia.

·                Benih-benih Nasionalisme
       Benih-benih nasionalis modern dapat kita runut pada masa absolutisme yang terjadi selama Abad XVII dan  XVII. Pada masa ansolutisme di Eropa selama dua abad itu, tentunya syarat untuk terbentuk agar raja dapat memerintah secara absolut atau mutlak diperlukan kekuasaan yang terpusat. Sentralisasi kekuasaan yang diperoleh pada masa absolutisme dapat mengakhiri kekuasaan para bangsawan feodal yang lebih berkuasa dari raja. Kekuasaan yang terpecah-pecah pada masa feodal pasti merugikan, termasuk merugikan perdagangan. Pergangan akan memperoleh manfaat jika dalam seluruh negara tterdapat hukum yang sama, jika ada organisasi sentral / jika jalur lalu lintas ekonomi aman.
Sebenarnya masih banyak faktor-faktor yang bisa kita dapati dari benih-benih nasionalisme selain absolutisme dan wilayah, juga adanya faktor demokrasi dan Parlementarisme yang pada awalnya diperjuangkan oleh kaum borjuis. itulah sebabnya, mengapa neggar-negara di Benua Asia dan Afrika beru mengenal nasionalisme dalam konsep modern karena mereka belum mengenal demokrasi dan Parlementarisme, baru pada Abad XX mereka mengenal dua hal tersebut.

·          Pembentukan negara-negara nasional
       Tidak dapat disangkal lagi bahwa panggung nasionalisme dan negara-negara nasional terjadi di Eropa dan pertama kali lahir di Inggris pada Abad XIX. Nasionalisme dalam sejarrah terjjadinya sangat erat kaittannya dengan perluasan kekuasaan dari suatu ke pusat kekuasaan. Pada dasarnya, pembentukan negara-negara nasional sering disebut sebagai keberhasilan perjuangan kaum borjuis Eropa. Peristiwa revolusi Perancis 1789, kemudian diikuti oleh zaman Napoleon (1799-1815) dan wangsa Bourbon.
       Gerakan-gerakan nasionalis Eropa tidak dengan serta merta harus di asosiakan dengan gerakan-gerakan demokratis semenjak terjadinya Revolusi Perancis. Namun kaum nasionalis menuntut agar derajat yang diakui bukanlah derajat kemanusiaan secara universal, tetapi derajat untuk kelompok mereka sendiri.

6.         6. IMPERIALIAME

 Imperialisme sebagai sebuah tahapan khusus dari kapitalisme (Lenin, 1916),Imperialisme muncul sebagai perkembangan dan kelanjutan langsung dari karakteristik-karakteristik fundamental kapitalisme secara umum. Tetapi kapitalisme hanya menjadi kapitalisme imperialis pada tahapan tertentu dan paling tinggi dalam perkembangannya, ketika beberapa karakteriistik fundamentalnya mulai berubah menjadi kebalikannya, ketika fiture-fitur dari epos transisidari kapitalisme ke sebuah sistem sosial dan ekonomi yang lebih tinggi telah mengambil bentuk dan menunjukkan diri mereka dalam semua bidang.
                  Secara ekonomi, hal utama di dalam proses ini adalah pergeseran kapitalisme persaingan bebas oleh kapitalisme monopoli. Persaingan bebas adalah fitur utama dari kapitalisme dan produksi komoditas secara umum. Monopoli adalah kebalikan dari persaingan bebas, menciptakan industri skala besar dan menggeser industri kecil, menggantikan industri skala besar dengan industri skala yang lebih besar lagi dan membawa konsentrasi produksi dan kapital pada sebuah titik, dimana darinya telah tumbuh dan sedang berkembang monopoli.
             Bila kita harus memberikan imperialisme sebuah definisi yang ppaling singkat, kita dapat mengatakan bahwa imperialisme adalah tahapan monopoli dari kapitalisme. Definisi semacam ini akan mengikutsertakan hal-hal yang paling penting. Disatu pihak, kapital finansial adalah kapital dari beberapa bank monopoli yang sangat besar, yang merger dengan kapital dari asosiasi-asosiasi monopoli industrialis dan pihak yang lain. Pembagian dunia adalah transisi dari sebuah kebijakan kolonial yang telah meluas tanpa halangan ke daerah-daerah yang belum direbut oleh kekuatan kapitalis, ke sebuah kebijakan kolonial kepemilikan monopoli atas daerah-daerah dunia yangtelah dibagi-bagi sepenuhnya.
             Imperialisme juga di definisikan oleh Karl Kautsky, yang berpendapat bahwa imperialisme adalah sebuah produk dari kapitalisme industrial yang sangat maju. Impperialisme adalah hasrat dari setiap negeri kapitalis industrial untuk mengendalikan atau menjajah semua daerah-daerah agraria luas (ppenekanan dari Kautsky), tidak peduli negara mana yang mendudukinya. Namun definiisi yang dikemukakan Kautsky tidak berguna sama sekali karena ia berat sebelah, yakni tanpa basis yang jelas dan definisi ini hanya mempertimbangkan masalah kebangsaan. Definisi ini juga keliru jika mengartikan sebuah imperialisme lebih mengedepankan penjajahan daerah-daerah agraria saja.
             Imperialisme dibagi menjadi dua yakni imperialisme kuno dan imperiialisme modern. Perbedaan antara imperialisme modern dengan imperialisme kuno ialah imperialisme yang baru menggantikan ambisi sebuah kekkaisaran tunggal dengan teoridan praktek kekaisaran-kekaisarannyangpaling bersaing, tiap-tiap dari mereka termotivasi nafsu kemegahan politik dan laba komrsil yang serupa, dan yang kedua dalam finansial atau investasi terhadap kepentingan perdagangan.
·            Latar belakang Imperialisme Modern         
a.        Faktor tekhnologi
       Akibat revolusi industri telah menempatkan berbagai negara eropa sebagai negara industri. Kemajuan industrialisasi melalui perkembangan tekhnologi menjadikan eropa menguasai dunia yang belum berkembangan. Penggunaan tekhnologi melalui alat-alat mesin telah menggantikan tenagga manusia, mendorong banyaknya barang-barnag dagangan yang dihasilkan secara cepat, murah, dan melimpah. Untuk keperluan proses industrinya, negara-negara eropa sangat memerlukan kebutuhan sumber-sumber bahan mentah. Kemajuan tekhnologi eropa menghantarkan mereka memiliki hegemoni dan dianggap sebagai pelopor umat manusiaa dunia. Maka dari itu, mereka sangat bersemangat untuk melakukan imperialisme.
b.        Faktor kapitalisme
Kapitalisme merupakan unsur penting yang ikut melahirkan imperialisme modern. Ekspansi besar-besaran dari kekayaan dan kekuuasaan merupakan latar belakang perkembangan ekonomi Abad XIX, Abad XIX adalah suatu era penguasaan dunia bangsa eropa dengan kapitalisme dunianya, yang telah menimbulkan bagian-bagian dunia ini dan mengadakan emansipasi maupun eksploitasi.
        Kaum kapitalis, utamanya para Bankir, sangat tertarik dalam bidang-bidang industri, hingga timbul Trust, Kartel, dan terbentuk perusahaan sejenis berubah menjadi perusahaan besar. Sistem kapitalisme telah menghasilkan barang dagangan yang melimpah sehinnga membutuhkan pemesaran barang. Maka dari itu, para kapittalis sangat mendukung negara mencari tanah- tanah jajahan. 

7. SOSIALISME

 Latar belakang Sosialisme
Untuk menentukan kapan tepatnya sosialisme itu muncul tidaklah mudah. Tanpa kita sadari bahwa sosialisme sudah ada sejak dahulu dan sering dipergunakan dalam pembuatan surat-surat yang berisi perjaanjian, dimana di dalam surat tersebut berisi tentang perlindungan bagi para buruh, wanita dan kaum yang lemah. Sosialisme juga memiliki unsur lain yaitu protes terhadap prinsip bahwa, uang merupakan ikatan utama antar manusia dan tidak terbatas pada tradisi sosial saja.
Sosialisme merupakan gerakan yang efektif dan terorganisir dan merupakan produk dari Revolusi Industri. Meskipun sebelumnya, sosialisme pernah dikatakan sebagai produk dari kapitalisme industri modern. Sosialisme ini berbeda dengan komunisme yang terjadi di negara-negara pra-industrialisasi, sosialisme sudah berkembang dalam masyarakat-masyarakat yang sudah mengalami industrialisasi yang luas.
Baik kapitalisme maupun sosialisme keduanya sama-sama tergabung dalam kelompok yang didominasi oleh konsep ekonomi kemakmuran, sedangkan fasisme dan komunisme, keduanya tergabung dalam kelompok yang kedua yaitu ekonomi terpimpin. Sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dengan kapitalisme yakni melestarikan kesatuan faktor tenaga kerja dan pemilikan. Namun disaat perekonomian kapitalis mengalami kemajuan, tanggung jawab individu dan keluarga dalam urusan pemilikan alat-alat produksi dan pengaturan tenaga kerja, secara perlahan digantikan oleh sistem ekonomi yang dimiliki perusahaan dan ketika bentuk usaha industri mengalami kemajuan, maka tanggung jawab tenaga kerja semakin beralih ke tangan masyaraat, sementara pemilikan tetap secara perorangan. Hal ini juga di dukung oleh kaum sosialis pada umumnya setuju dengan kaum kapitalis, bahwa pemilikan secara perorangan harus dipertahankan dan diperkuat pada harta milik kecil yang tetap bertahan sebagai satuan tekhnologi yang bersifat efisien.
Sosialisme Inggris dipelopori oleh seorang kapitalis kaya yang bernama Robert Owen. Ia adalah seorang pemikir yang ulet dan memiliki pertimbangan praktis dan mampu mengatasi segala permasalahan dalam kehidupannya. Ia tidak melihat kapitalisme inggris sebagai penjara yang tidak berperikemanusiaan,tetapi melukiskan konstitusi negara itu sebagai perencanaan yang terbaik dan paling jelas yang pernah dirumuskan.

è Hubungan  Sosialisme dan Demokrasi
Sosialisme sangat erat kaitannya dengan demokrasi, karena sosialisme ini dapat berkembang di negara-negara yang memiliki tradisi demokrasi yang kuat. Semua tujuan sosialisme demokratis ini mengandung inti yang sama yakni, mewujudkan secara nyata demokrasi dengan cara mempperluas penerapan prinsip-prinsip demokrasi dari hal-hal yang bersifat politis sampai pada yang bersifat non-politis dalam masyarakat.
Bukti dari negara-negara demokratis yang memiliki gerakan sosialis yang kuat menunjukkan bahwa pemberian kebebasan yang penuh kepada para warga negara unttuk mengungkapkan semua gagasannya dan membentuk partai, nampaknya menjadi penangkal yang terbaik melawan fasisme dan komunisme, dan penindasan merupakan ladang yang subur bagi tumbuhnya gerakan-gerakan yang revolusioner.

è Sosialisme melawan Komunisme
Karena kaum komunis mempunyai tujuan revolusi, maka kaum sosialis menganggap mereka sebagai sumber kekacauan yang harus disingkirkan dari kelas buruh yang terorganisir. Maka hdari itu tidak heran jika kalau kaum komunis berusaha keras untuk mengendalikan organisasi buruh. Ketidak sepahaman antara sosialis dengan komunis dipertegas dengan penolakan kaum sosialis terhadap pemikiran Marxis yang juga berlaku untuk terminologi proletariat. Kemudian dalam prinsip pemilikan negara, sosialis dengan komunis juga mengalami perbedaan. Kaum komunis berusaha untuk mengalihkan semua alat produksi, distribusi dan pertukaran menjadi milik negara, karena mereka lebih menghendaki milik umum dari pada usaha perorangan. Sebaliknya, kaum sosialis mempertimbangkan apakah industri atau jasa tertentu perlu dialihkan menjadi milik negara dan diawasi negara .
Bagi kaum komunis, semua sistem kapitalis baik yang sifatnya demokratis, otoriter, maupun fasis adalah kediktatoran borjuis. Sedangkan kaum sosialis membuat pemisahan yang mendasar antara dua sistem kapitalis, yaitu kediktatoran politik dan demokrasi liberal. Oleh karena itu, kaum sosialis membayangkan peralihan dari perekonomian yang dominan kapitalis menjadi perekonomian yang dominan sosialis bukan sebagai hasil perjuangan kudeta revolusioner dalam sekejap yang memustahilkan peralihan kepada usaha perorangan, tapi merupakan hasil langkah-langkah secara bertahap dan tidak satu pun dari langkah-langkah itu yang secara otomatis mengganti sifat ekonomi secara keseluruhan.

è Teori dan Praktek Sosialis
Praktek sosialis yang berhasil dilakukan ialah sosialis  Inggris yang memiliki beberapa unsur pemikiran dan kebijakan sosialis yang kompleks. Unsur-unsur dan kebijakan sosialis tersebut meliputi: Agama, idealisme etis dan estetis, Empirisme Fabian, dan Liberalisme.

è Masa depan Sosialisme
Seiring dengan perkembangan jaman, pengertian sosialisme di negara-negara berkembang mmengalami perbedaan dengan pengertian sosialis yang ada di negara maju. Di Dunia barat, sosialisme tidak diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan negara yang belum maju, tapi cara mendistribusikan kekayaan negara secara merata. Sebaliknya, sosialisme di negara-negara berkembang tidak banyak dikonfrontasikan dengan tugas mendistribusikan hasil-hasil perekonomian industri yang masih sulit berjalan.
Dalam perkembangannya, sosialisme tidak dapat berkembang di AS. Karena Amerika Serikat tidak terlalu mendukung adanya pemerataan sosial / kemakmuran materiil yang sudah terpenuhi namun lebih memperhatikan pembaharuan diluar bidang pertentangan sosialis-kapitalis.

8.       8.  KOMUNISME

Ø  Teori Marxis
è Penafsiran Sejarah dari Segi Ekonomi
Ada berbagai macam cara yang dilakukan orang-orang sebelum Marx dalam menafsirkan sejarah. Biasanya melalui berbagai pendekatan seperti pendekan agama, pendekatan politik, pendekatan yang mennekankan pada peranan pahlawan serta pendekatan dari sudut militer.
Jika dilihat dari  pendekatan agama, sejarah ditafsirkan sebagai sebuah bentuk penyelenggaraan kehendak yang Maha Kuasa dan menganggap perkembangan manusia merupakan salah satu bagian dari rencana Allah untuk alam semesta. Lain halnya dengan pandangan politik yang mengaanggap bahwa Kaisar/ Raja sebagai pembuat undang-undang, sedangkan para serdadunya berfungsi sebagai power yang menentukan sejarah. Pendekatan selanjutnya ialah pendekatan yang menekankan peranan pahlawan, dimana pendekatan ini erat kaitannya dengan pendekatan politik. Namun pendekatan ini terlalu menitikberatkan pada peranan individu dengan mengabaikan kondisi sosial, budaya, religius, dan lingkungan ekonomi yg lebih luas yang membentuk suatu latarbelakang. Kemudian penafsiran sejarah melalui pendekatasn dari sudut militer yang lebih memusatkan pada peperangan. Lalu pendekatan yang yang terakhir ialah pendekatan yang menekankan pada dampak dari ide-ide yang dianggap sebagai penyebab utama timbulnya proses sejarah yang sering diartikan bahwa sejarah berevolusi menuju terwujudnya ide pokok yang dijadikan dasar  untuk melangkah kedepan seperti Demokrasi dan kebebasan.
Berdeda dengan penafsiran sejarah yang dilakukan oleh orang-orang sebelum Marx, analisis mark tentang masyarakat dinyatakan dalam penafsiran ekonominya atas sejarah.ia juga melukiskan hubungan antara kondisi material darikehidupan masyarakat dengan idenya,yakni “bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaannya, tetapi sebaliknya keberadaan sosial manusia itulah yang menentukan kesadaraannya”. Penafsiran Marx juga memiliki keraguan dalam teorinya terutama dalam generalisasi dan penyederhanaan yang dianggap terlalu berlebihan. Karena dalam teorinya tersebut hanya menggunakan satu faktor dalam menjelaskan suatu masalah.
Penafsiran kaum sejarah kaum Marx memegang pendirian bahwa imperialisme terutama disebabkan oleh kepentingan-kepepntingan dan perasaingan-persaingan ekonomi, dan itu merupakan aspek inti dari kapitalisme. Sebaliknya, Uni Soviet dan Cina (dalam skala kecil) menunjukkan bahwa imperialisme bisa terjadi tanpa kapitalisme.

è  Dinamika Perubahan Sosial
Sebelum Marx, suatu perubahan sosial yang penting dianggap sebagai gagasamn dari para pemimpin politik yang besar, para pembuat uundang-undang dan para pelopor pembaharuan. Namun Marx menolak atas penekanan tradisional pada kekuatan pribadi sebagai pelaku utama dalam perubahan sosial yang penting dan menemukanpenjelasannya pada alasan-alasan ekonomi yang impersonal dengan menggunakan dua konsep yang menjadi kunci dalam mengadakan pendekatan terhadap masalah perubahan yang penting. Dua konsep tersebut antara lain :
1.     Kekuatan produksi, maksudnya ialah tekhnologi dan ilmu pengetahuan.
2.  Hubungan Produksi yakni mengungkap hubungan manusia dengan manusia lain yang mencakup semua masalah yang ada pada saat ini yang biasa disebut dengan Lembaga sosial.
Menurut Marx, hanya pemilikan alat-alat produksi yang umum yang dapat menciptakan sistem hubungan produksi yang baru yang didasarkan pada produksi untuk kepentingan umum, bukan untuk kepenntingan pribadi.Untuk merubah sistem yang berlaku dimasyarakat, maka revolusi merupakan satu-satunya jalan keluar yang harus  dilakukan untuk merubaha semua kebijakan terutama mengenai pemilikan faktor produksi.
Seperti yang tertulis dalam karyanya, Marx  menegaskan bahwa “ sejarah seluruh masyarakat hingga saat ini merupakan sejarah perjuangan kelas ”. Maka dari itu, Marx ingin menciptakan masyarakat komunis, dimana pemilikan faktor produksi harus di kuasai oleh negara demi kepentingan umum.

è  Marx Dewasa ini
Memang dulu Marx merupakan seorang cendekiawan yang besar terutama pada anad ke- 19 bukan pada abad sekarang. Pada abad ke 19 Marx dalam teori-teori dan ramalan-ramalan ekonominya menganggap bahwa industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi merupakan jalan utama menuju pembebasan manusia dari penderitaan dan kebodohan, dengan cara jika alat-alat produksi dimiliki dan ditanganioleh negara.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, teori-teori Marx maupun ramalan-ramalannya telah mendapati berbagai masalah seperti masalah lingkungan, maslah sumber daya yang belum dirasakan pentingnya pada zaman Marx. Selain itu, Marx juga hidup pada zaman di mana perusahaan industri sudah ada namun masih dalam skala kecil. Marx berfikir bahwa industrialisasi dapat sepeenuhnya menguntungkan jika pemilihan alat-alat produksi secara perorangan diganti menjadi pemilikan oleh negara melalui revolusi komunis. Ia tidak berfikir bahwa kepemilikan alat-alat produksi oleh negara justru dapat menindas rakyat dibandingkan dengan sistem pemilikan alat-alat produksi secara perorangan.

è  Sumbangan Lenin bagi Teori Komunisme
 Diantara pengikut Marx di Rusia, Lenin lah yang paling cerdas dan berhasil. Sumbangan Lenin yang paling penting  untuk teori komunisme dapat kita lihat dlam pamfletnya yang berjudul “ What Is to Be Done (1902)” yang berisi tentang konsep mengenai kaum revolusioner yang profesional.
Sebenarnya banyak ketidaksetujuan Lenin terhadap pendapat maupun pandangan  Marx tentang komunisme. Seperti ketidakpercayaan Lenin terhadap masyarakat. Menurutnya kegiatan komunis harus dilakukan melalui dua jalur. Pertama, para buruh harus membentuk organisasi buruh, kalau bisa partai komunis yang beroperasi secara terbuka, sesuai hukum dan melibatkan publik sejauh kondisi menguntungkannya.Kedua, kaum revolusioner profesional harus mengadakan penyusupan / infiltrasi dan membentuk sel-sel di dalam lembaga-lembaga sosial, politik, pendidikan, dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat.

è  Dari Marx Hingga Lenin
Karena komunisme yang dibawa Lenin dinilai lebih bisa diterapkan di negara-negara eropa serta kemampuannya dalam merubah hakekat Marxisme yang melahirkan pemikiran dan sikap yaitu Marxisme dan Leninisme yang  di bentuknya dengan mengkombinasikan beberapa pemikiran Marx yang orisinal dengan berbagai reformulasi yang telah disusun oleh lenin.

9.       9. FASISME

Fasisme pada dasarnya merupakan pemberontakan kedua setelah komunisme. Karena jika kita melihat fasisme secara spesifik, fasisme merupakan pengorganisasian pemerintahan dan masyarakat secara totaliter,oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeris dan imperialis. Fasisme ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan atas rakyat atas kebijakan pemerintah dan negara yang pertama kali menjadi fasis ialah Italia (1922) dan selanjutnyadisusul oleh Jerman, Spanyol, dst.
Meski fasisme ini merupakan pembrontakan kedua setelah komunisme, namun ada banyak perbedaan yang membedakan fasisme dengan komunisme. Dari segi tipikal, komunisme biasanya dikaitkan dengan negara-negara miskin dan keterbelakang seperti negara agraris. Sedangkan fasisme biasanya diakaitkan dengan negara-negara yang makmur secara tekhnologi maju. Selain itu, kalau komunisme biasanya merupakan produk dari masyarakat pra demokrasi dan pra industri. Sedangkan fasisme merupakan produk dari masyarakat pasca demokrasi dan pasca industri. Secara singkat,komunisme adalah cara paksaan untuk mengindustrialisasikan masyarakat keterbelakang, sedangkan fasisme merrupakan cara paksaan untuk mengatasi konflik-konflik dalam masyarakat industri maju.
Perlu diketahui bahwa akar psikologis Totaliterisme pada negara-negara fasis berasl dari tradisi otoriter yang telah mendominasi selama berabad-abad. Tanpa didasari setiap pemimpin memiliki siakap otoriter, halini dapat dilihat pada nafsu yang menggebu-gebu untuk meraih kekuasaan dan keinginan untuk mendominasi.
è Teori dan Praktek Fasisme
Walaupun fasisme memiliki kesamaan dengan komunisme, namun fasisme tidak memiliki pernyataan yang mengikat tentang prinsip-prinsip seperti yang dimiliki komunisme. Ketiadaan pernyataan tentang prinsip-prinsip fasisme yang mengikat dan diakui secara universal bukanlah dalam pengertian yang mutlak, dalam artian tidak ada sama sekali .
Meskipun tidak ada manifesto fasis dengan otoritas yang tak dapat di perdebatkan oleh kelompok fasis sendiri, namun tidak sulit utnuk menemukan unsur-unsur pokok dalam pandangan fasis ;
1.   Ketidakpercayaan pada keampuhan nalar, yang merupakan ciri fasisme yang sangat menonjol. Fasisme menolak tradisi peradaban barat secara terang-terangan bersikap anti-rasional. Dalam urusan kemanusiaan, fasisme tidak mengandalkan akal / nalar. Tetapi mengutamakan unsusr-unsur dalam diri manusia yang irasional, sentimental & tak terkendali.
2.   Pengingkaran persamaan derajat kemanusiaan yang merupakan ciri umum yang terdapat dalam gerakan / negara fasis.
3.   Kode perilaku tentang perilakubmenekankan pada kekerasan dan kebohongan dalam semua bentuk hubungan antar manusia di dalam negara maupun antar bangsa.
4.   Pemerintahan oleh kelompok elit, meruppakan prinsip yang secara terbuka dipertentangkan oleh kelompok fasis di mana-mana dengan apa yang mereka sebut “kekeliruan demokrasi ” yangg mengatakan bahwa rakyat mampu memerintah dirinya sendiri
5.   Totaliterisme dalam semua bentuk hubungan antar manusia mencirikan fasisme sebagai suatu pandangan hidup dan bukan hanya sekedar sistem pemerintahan.
6.   Rasialisme dan imperialisme, menungkapkan dua ciri dasar fasis yyakni ketidaksamaan martabat manusia dan kekerasan yang diterapkan pada masyarakat bangsa-bangsa.
7.   Menentang hukum dan ketertiban internasional, atau perang merupakan konsekuensi logis dari keyakinan fasis pada ketidaksamaan martabat manusia, kekerasan, elitisme, rasialisme, dan imperialisme.

è Ekonomi Fasis : Negara Korporasi
Negara yangbmenerapkan prinsip-prinsip fasis dalam meneta dan mengawasi perekonomian ialah negara Korporatis (Italia). Ada dua asumsi yang mendasari filsafat negara korporatis. Pertama, seorang warga negara tidak boleh terlibat dalamkegiatan politik, tetapi hanya menjalankan fungsi sebagai buruh, pengusaha, petani,dokter/ pengacaraKedua, para elit penguasa dianggap memahami masalah penting yang mempengaruhi seluruh anggota masyarakat.Oleh karena itu, hanya mereka yang memenuhi syarat untuk memegang pemerintahan.

Konsep demokrasi menolak pendekatan korporatis ini terhadap organisasi ekonomi dan politik karena berbagai alasan. Pertama, tidak selalu mudah untuk memisahkan aspek ekonomi dan aspek politik. Kedua, teori demokrasi menegaskan bahwa hanya pemakai sepatu yang merasakan cengkeraman sepatu itu. Pada  akhirnya, demokrasi menolak anggapan fasis bahwa anggota kelas tertentu lebih unggul dalam membuat pertimbangan dari pada anggota masyarakat lainnya, sehingga atas dasar itu, mereka dengan sendirinya menjadi penguasa negara.

Dari aspek politik, fasisme mewujudkan negara yang menganut sistempartai tunggalyang dilengkapi dengan dinas polisi rahasia dan konsentrasi, sedangkan dari segi ekonomi dan sosial, fasisme menerapkan korporatisme. Contohnya saja rezim Italia yang membentuk negara korporatis untuk menunjukkan kepada rakyat italiadan dunia bahwa fasisme bukan hanya sekedar reaksi terhadap kapitalisme dan sosialisme liberal, tetapimerupakan suatu prinsiup baru yang kreatif dalam organisasi sosial dan ekonomi.

1   10.   EROKOMUNISME
Erokomunisme pada intinya merupakan perkembangan dari ideologi komunisme di Eropa Barat dan Pergerakan Erokomunisme ini juga sudah dimulai sejak perang Dunia II. Erokomunisme ini pada dasarnya muncul sebagai pengganti dari praktek Marxis yang lebih mendasarkan pada Demokrasi Borjuis. Sedangkan Uni Soviet dan Cina dengan jelas menegaskan penolakannya terhadap praktek komunis yang diprakarsai oleh Karl Marx tersebut. Uni Soviet dan Cina tidak mendukung adanya demokrasi borjuis , akan tetapi mereka justru menginginkan supremasi sebagai kekuatan komunis yang dominan. Itu sebabnya mengapa partai-partai komunis yang ada di Eropa Barat menyatakan bahwa mereka telah mengembangkan ideologi komunis dengan caranya sendiri yakni Erokomunisme.
è  Ideologi Erokomunisme
Meskipun ideologi erokomunisme mendapat sumbangan pemikiran dari beberapa tokoh, namun ideologi komunisme ini pada dasarnya berakar pada pemikiran Antonio Gramsci, Yakni seorang pendiri Partai Komunis Italia tahun 1921. Konsep Erokomunisme ini banyak mendapat sumbangan dari pemikiran beliau. Tujuan yang tercantum dalam ideologi ini ialah untuk melawan ancaman Fasisme yang bersifat totaliter oleh kediktatoran partai tunggal yang sangat nasionalis, rasialis, militeris dan imperialis dalam pengorganisasian pemerintahan  serta pelestarian demokrasi sebagai iklim politik yang memungkinkan komunisme pada akhirnya dapat tumbuh subur. . Fasisme ini mucul pertama kali di Eropa, tepatnya di Italia pada tahun 1922.
Perevisian konsep Marxisme bermula dari gagasan Antonio Grimsci (1891-1973) yang kemudian dituangkan dalam salah satu bukunya Prison Notebooks. Pada prinsipnya Grimsci menyampaikan betapa pentingnya partai komunis beraliansi dengan partai lain untuk bersama-sama merebut kekuasaan dari tangan kapitalis. Konsep partai tunggal sebagaimana di teorikan Vladimir Ilyits Ullianov yang kemudian dikenal dengan nama V.I.Lenin (1870-1924) oleh Gramsci, kekuasaan lebih mudah direbut dengan cara beraliansi dengan kekuatan lain melalui sistem parlementer. Pemikiran Gramsci inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai awal bangkitnya komunisme baru dalam internasional yang berhasil merevisi dan memperbaiki Marxisme yang kemudian mengidentifikasikan dirinya dengan menyebut “Erokomunisme” .
PRAGMATISME
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja.Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan.Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.

Aliran ini terutama berkembang di Amerika Serikat, walau pada awal perkembangannya sempat juga berkembang ke Inggris, Perancis, dan Jerman.William James adalah orang yang memperkenalkan gagasan-gagasan dari aliran ini ke seluruh dunia. William James dikenal juga secara luas dalam bidang psikologi. Filsuf awal lain yang terkemuka dari pragmatisme adalah John Dewey. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.

Secara etimologis, kata 'pragmatisme' berasal dari kata bahasa Yunani pragmatikos yang berarti cakap dan berpengalaman dalam urusan hukum, dagang, dan perkara negara.Istilah pragmatisme disampaikan pertama kali oleh Charles Peirce pada bulan Januari 1878 dalam artikelnya yang berjudul How to Make Our Ideas Clear.

MERKANTILISME

Istilah merkantilis sendiri berasal dari bahasa Latin mercari, yang berarti "untuk mengadakan pertukaran," yang berakar dari kata merx, berarti "komoditas." Kata merkantilis pada awalnya digunakan oleh para kritikus seperti Mirabeau dan Smith saja, namun kemudian kata ini juga digunakan dan diadopsi oleh para sejarawan.

Merkantilisme adalah suatu teori ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan suatu negara hanya ditentukan oleh banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh negara yang bersangkutan, dan bahwa besarnya volum perdaganganglobal teramat sangat penting. Aset ekonomi atau modal negara dapat digambarkan secara nyata dengan jumlah kapital (mineral berharga, terutama emas maupun komoditas lainnya) yang dimiliki oleh negara dan modal ini bisa diperbesar jumlahnya dengan meningkatkan ekspor dan mencegah (sebisanya) impor sehingga neraca perdagangan dengan negara lain akan selalu positif. Merkantilisme mengajarkan bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai tujuan ini dengan melakukan perlindungan terhadap perekonomiannya, dengan mendorong eksport (dengan banyak insentif) dan mengurangi import (biasanya dengan pemberlakuan tarif yang besar). Kebijakan ekonomi yang bekerja dengan mekanisme seperti inilah yang dinamakan dengan sistem ekonomi merkantilisme.

Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan di seluruh sekolah Eropa pada awal periode modern (dari abad ke-16 sampai ke-18, era dimana kesadaran bernegara sudah mulai timbul). Peristiwa ini memicu, untuk pertama kalinya, intervensi suatu negara dalam mengatur perekonomiannya yang akhirnya pada zaman ini pula sistem kapitalisme mulai lahir. Kebutuhan akan pasar yang diajarkan oleh teori merkantilisme akhirnya mendorong terjadinya banyak peperangan dikalangan negara Eropa dan era imperialisme Eropa akhirnya dimulai. Sistem ekonomi merkantilisme mulai menghilang pada akhir abad ke-18, seiring dengan munculnya teori ekonomi baru yang diajukan oleh Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations, ketika sistem ekonomi baru diadopsi oleh Inggris, yang notabene saat itu adalah negara industri terbesar di dunia.

Pada intinya, ide pokok kelompok merkantilis ini adalah sebagai berikut:
a. Suatu negara akan makmur dan kuat bila ekspor lebih besar dari impor
b. Surplus yang diperoleh dari selisih ekspor dan impor (ekspor netto) yang positif akan dibayar dengan logam mulia (emas dan perak). Dengan demikian semakin besar ekspor netto maka akan semakin banyak logam mulia yang diperoleh dari luar negeri.
c. Pada waktu itu logam mulia digunakan sebagai alat pemba-yaran,sehingga negara yang memiliki logam mulia yang banyak akan menjadi makmur dan kuat
d. Logam mulia yang banyak tersebut dapat digunakan untuk membiayai armada perang guna memperluas perdagangan luar negeri dan penyebaran agama
e. Penggunaan kekuatan armada perang untuk memperluas per-dagangan luar negeri diikuti dengan kolonisasi diAmerika Latin, Afrika dan Asia


HUMANISME

Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu.

Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia .

Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat.

RASIONALISME

Dilihat dari segi kebahasaan, humanisme berasal dari kata Latin humanus dan mempunyai akar kata homoyang berarti manusia. Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia 
  Rasionalisme, yaitu suatu alian pemikiran yang menganggap bahwa rasio merupakan kekuatan utama, mendasar atau sumber dari peradaban manusia. Rasionalisme timbul akibat kemajuan ilmu pengetahuan alam yang didasarkan atas daya pikir manusia
  Dalam penjelasan mengenai Rasionalisme akan mengambil mengenai penjelasan dari tokoh Rasionalisme yaitu Voltaire, rasionalisme menolak visi tradisional yang bersumberkan kitab suci, dan memperjuangkan rasio sebagai interpretasi sejarah secara teologis. Voltaire juga berpendapat Tuhan telah menarik diri dari dalam pengaturan sejarah, mungkin Tuhan masih mengaturnya, namun tidak ikut campur dalam proses sejarah. Menurut voltaire, tujuan dari sejarah itu ditentukan oleh akal manusia, akal berperan menentukan jalan sejarah. Perkembangan proses sejarah manusia dalam mencapai kebahagiaan itu ditentukan oleh akal manusia.     
            Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui imandogma, atau ajaran agama.

ATEISME

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.

Istilah ateisme berasal dari Bahasa Yunani ἄθεος (átheos), yang secara peyoratif digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan agama/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18.

Ateisme pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri" pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis. Pada abad ke-20, globalisasi memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)". Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ateisme sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas

POLITEISME

Politeisme adalah bentuk kepercayaan yang mengakui adanya lebih dari satu Tuhan. Secara harfiah berasal dari bahasa Yunani poly + theoi, yang berarti banyak tuhan. Lawan dari paham ini adalah monoteisme, atau kepercayaan yang hanya mengakui satu Tuhan.

Politeisme adalah kepercayaan dalam atau pemujaan banyak tuhan seperti dewa dan dewi. Tuhan-tuhan ini dipuja di kuil bersama dengan upacara dan mitologi mereka. Banyak agama, baik yang lama atau baru, memiliki kepercayaan politeisme seperti agama Hindu, Buddha, Shinto, Yunani Kuno, agama tradisi orang Tionghoa, kepercayaan neo-pagan dan paganisme Inggris-Saxon.

Politeisme adalah jenis teisme. Dalam teisme, berbeda dengan monoteisme, keyakinan pada Tuhan yang tunggal. Musyrik tidak selalu menyembah semua dewa yang sama, tetapi dapat Henotheists, yang mengkhususkan diri dalam penyembahan satu dewa tertentu. Musyrik lainnya dapat Kathenotheists, menyembah dewa-dewa yang berbeda pada waktu yang berbeda pula.
KOLONIALISME
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.

Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi. Mereka menunjuk ke bekas koloni seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Hong Kong dan Singapura sebagai contoh sukses pasca-kolonialisme.

Peneori ketergantungan seperti Andre Gunder Frank, berpendapat bahwa kolonialisme sebenarnya menuju ke pemindahan kekayaan dari daerah yang dikolonisasi ke daerah pengkolonisasi, dan menghambat kesuksesan pengembangan ekonomi.

Collins English Dictionary mendefinisikan kolonialisme sebagai "kebijakan dan praktek kekuatan dalam memperluas kontrol atas masyarakat lemah atau daerah." The Merriam-Webster Dictionary menawarkan empat definisi, termasuk "karakteristik sesuatu koloni" dan "kontrol oleh satu kekuatan di daerah yang bergantung atau orang-orang ". The Encyclopedia 2.006 Stanford Filsafat "menggunakan istilah 'kolonialisme' untuk menggambarkan proses penyelesaian Eropa dan kontrol politik atas seluruh dunia, termasuk Amerika, Australia, dan sebagian Afrika dan Asia."                                                                                                                                                     

CERPEN " HUJAN" KARYA SUTARDJI CALZOUM

HUJAN
Karya: Sutardji Calzoum

***
cerpen hujan karya Sutardji Calzoum

Hujan menggelitik pepohonan di halaman, membasuh dahan, menggertap di atap, dan membangunkan Ayesha, gadis enam belas tahun yang tadinya nyenyak lelap di kamar.“Alhamdulillah hujan,” bilang Ayesha sambil turun dari ranjang dan melangkah ke ruang depan. Ayesha memang senang pada hujan.

Jika hujan datang, ia serasa kedatangan teman yang akrab. Tapi, Ayesha tak membukakan pintu bagi sahabatnya itu. Ia hanya menyibakkan gorden di ruang depan dan dari kaca jendela diamatinya hujan di halaman. Ia juga tak mengucapkan selamat datang. Buat apa, hujan selalu selamat. Kalau kata-kata semacam itu diucapkan bakal berlebihan, pikir Ayesha.

Bermula karena merajuk pada matahari, ia beranjak senang pada hujan. Itu ketika masih usia sekitar lima tahunan, ketika ikut-ikutan ibunya memindahkan anak tanaman suplir ke halaman yang lantas remuk redam dibantai panas siang.

Kini, sudah lama ia tak benci matahari, tapi tetap saja ia lebih senang pada hujan. Dari hari ke hari, dari hujan ke hujan ia selalu semakin senang pada hujan. Di kelas, jika hujan datang ia selalu menatap ke luar. Guru mula-nula kesal, tapi akhirnya dibiarkan. Bagaimana pun, ia anak yang pintar. Ayesha selalu masuk dalam rangking terbaik di kelasnya.

Tidak sekedar senang pada hujan, kemudian ia pun bertanya-tanya sendiri tentang hujan. Bukan cuma butir-butir air yang mengucur di langit. Bukan hanya butir-butir runcing di ubun-ubun ketika orang lewat di jalan. Pastilah ada sesuatu yang lain dari hujan, begitu pikir Ayesha. Lantas, setiap hujan datang ia selalu menyapa, apakah hujan. Hujan menjawab dengan hujan. Dengan gemericik air, dengan gemertap di atap, dengan butir-butir dingin dan segar yang bersambungan sampai langit.
***
Kini, dalam jenjang usia enam belas, bagian-bagian tubuhnya elok membesar, bersama hati dan pikiran yang ikut berkembang. Dari hujan ke hujan, hujan semakin membukakan diri selapis-selapis padanya. Dan ia mulai semakin paham hujan. Lewat kaca jendela, ditatapnya hujan yang sedang membukakan makna. Butir-butir air lebat bersama angin menyibakkan dedaunan di halaman, dan pada dedaunan itu hujan menjadi dedaunan hujan. Deras hujan meniti-niti pagar dan pada pagar itu ia menjadi pagar hujan.

Lihatlah, hujan meloncat-loncat dari ranting ke ranting dan menjadi ranting hujan. Hujan pun berkisar dan mengusap-usap mawar, dan pada mawar itu menjadi mawar hujan. Lantas, pada buah jambu hujan menggelembung dan menjadi buah hujan.

Ayesha ingin memetik buah hujan tanpa menanggalkan jambu. Ia ingin meraih mawar hujan tanpa mengganggu mawar halaman. Ia ingin meniti dahan dan menyibak-nyibak ranting hujan tanpa mematahkan ranting dan membebani dahan itu. Ia ingin berjingkat pada pagar hujan tanpa menginjak besi pagar. Ia ingin, tapi ia tak mau membuka pintu melangkah ke luar dan masuk ke dalam hujan.

“Buat apa?bercakap-cakap dengan hujan, memetik hujan, bukanlah harus berhujan-hujan. Engkau memetik makna ucapan orang, tidaklah harus masuk ke mulut orang atau memetik lidahnya,” bilang Ayesha.
***
Dan ia pun kini paham, hujan di luar mengajak bangkit hujan yang di dalam dirinya. Nyanyi hujan di atap, lambaian hujan pada dedaunan, dan kaki-kaki hujan di halaman terus memanggil-manggil. Jangan engkau bilang bunyi hujan. Hujan bukan sekedar gertap di kaleng Khong Guan, misalnya. Bagi Ayesha, hujan adalah ucapan yang mendedah sastra, nyanyi, musik, atau tari. Lihatlah, hujan menyibak-nyibakkan tarian pada dedaunan dan melentun anggun pada dahan dan batang.

Terpagut pada tari hujan, Ayesha mulai bersijingkat ke tengah ruangan dan segera melangkahkan tarian. Bagai angsa mengarungi telaga, ia pun asyik melayarkan tari. Ah, tidak tepat benar seperti angsa. Angsa tak pernah basah dengan tarian, sedangkan Ayesha melulu basah dengan tarian. Namun, jika engkau cicip tengkuk atau sikunya, kau takkan merasakan asin keringat di sana. Arena yang basah itu hujan.

Ia telah menjadi hujan sekarang. Ia menderas dari pojok ke pojok ruangan menarikan hujan. Bila piroutte ia putarkan, hujanlah yang memutarkan. Sesaat ia tegak tenang, membuat batang hujan dari lekuk tubuhnya dan membiarkan rintik-rintik tari merajut-rajut rambut hujan di tengkuknya. Lantas, jari-jemari kakinya meniti-niti tari sambil membiarkan tempias tari di lantai. Maka, lantai ruangan ikut basah dengan tarian. Lihatlah, ia menekukkan lutut dan tangan anggun tarinya memetik kuncup hujan yang perlahan-lahan berkembang menjadi mawar hujan ke seluruh badan. Lalu, datanglah kupu-kupu hujan dari negeri yang jauh menangkup telinganya, membuahinya dengan rintik-rintik musik dari negeri kekal yang dekat sekaligus jauh.

Kini, Ayesha telah memiliki buah dan mawar hujan. Sekarang ia telah sampai pada kematangan hujan. Jika tarinya membelai mawar hujan, hujanlah yang membelaikannya. Bila ia memetik musik hujan, hujanlah yang memetikkan.
***
Dalam puncak hujan tarinya itu, tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Ayesha tersentak, dan putuslah tarian. Ibunya pulang dari super market terperangah sesaat melihat lantai basah dan Ayesha yang tertegun bagaikan patung yang masih menangkap sisa hujan.

Ibu memandang langit-langit. Kering, tak ada basah di sana. Ia pun tersenyum, lantas ia letakkan plastik belanjaan di sofa dan pergi mengambil handuk di kamar.

“Rupanya engkau mengembara lagi, Ayesha,” ujarnya sambil mengelap tubuh anaknya yang masih terpancang diam dan menyimpan hujan. Dan gumpalan jari-jemari katun handuk itu perlahan-lahan mengembalikan Ayesha pada dunia yang kering kerontang.
***

CERPEN "SEPOTONG KAYU UNTUK TUHAN" KARYA KUNTOWIJOYO

Sepotong Kayu Untuk Tuhan
Oleh: Kuntowijoyo
Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.
Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.
Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.
Aku bukan pemalas, pikir lelaki tua itu. Aku anak cucu mereka yang suka kerja keras. Aku rajin, dari ujung kaki sampai ujung rambut! Ia menyedot rokok pipa dalam-dalam. Tapi buktikanlah, Kakek, tiba-tiba ia berpikir-pikir. Ya, berkata itu mudah. Bukti itu sulit. Namun ia tak tahu kerja apa yang dapat dikerjakan pada saat seperti ini. Katakanlah, misalnya kayu bakar. Kayu bakar telah bertumpuk di dapur. Ia sendiri menumpuknya. Atau menyapu halaman. Sia-sia saja, tak seorang pun akan melihat rumahnya. Rumahnya cukup terlindung dari mata orang.
Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, ia berseru. “Celakalah yang menyiakan waktu!”. Ia ingat. Meski berbuat sesuatu. Berbaring bermalasan bukan pekerjaan muslim yang baik. Ia sudah mendengar kabar, orang kampung sedang mendirikan surau baru. Banyak orang telah menyediakan bahan. Telah terkumpul kayu, genting, kapur. Anak-anak madrasah mencari batu dan pasir ke sungai. Pantashkah baginya, muslim seumur hidup untuk bermalasan? Tidak. Berbaktilah kamu dijalan Tuhan dengan harta dan jiwamu! Ia gelisah. Kalau istrinya dirumah ia bisa mufakat. Seluruh kekayaannya, yaitu uang untuk makan, semuanya ada pada istrinya. Padanya hanya tinggal bahan-bahan makanan secukupnya sampai istrinya pulang. Apakah yang akan disumbangkan untuk pembangunan rumah Tuhan itu? Apakah karena istrinya tidak dirumah ia akan melewatkan kesempatan beramal? Tentu saja tidak. lelaki tua itu pun berpikir. Sebenarnya, pikirannya bisa pula jernih, hanya kebiasaan mendapatkan damprat dari istrinya telah membuatnya takut berpikir. Berpikir itu menyusahkan bagi lelaki tua macam dia.
Jadi, ia berdiri. Melepaskan pandangan keseluruh alam-rumah dan pekarangannya itu disebutnya seluruh alam dan turun dari serambi. Panas matahari mempermainkan daun-daun yang lincah oleh angin. Sekali-sekali berkas sinar jatuh ke punggung, menyengat. Ia senang. Menikmati kebebasannya dengan berjalan berjingkat, melangkahi tanaman sayur. Istrinya akan mengumpat kalau ia dirumah. Selalu ia cerewet apabila dilihatnya ia berjalan disela tanaman sayur itu. Padahal dia sendirilah yang mengatur tanaman. Dibelakang rumah adalah sungai. Air yang mengalir tenang itu sangat mempesona. Mana ada kesempatan menjenguknya lama-lama kalau istrinya dirumah! Ia tak pernah jemu bermain disungai. Hanya karena larangan isterinya, ia tak lagi bersahabat dengan air. Nanti masuk angin. Juga ia tak lagi mengail. Mengail adalah kerja bagi pemalas. Kadang-kadang istrinya menyuruh dia mencari ikan bukan dengan kail, tetapi dengan jala.
Ia berhenti. Didepannya berdiri sebuah pohon nangka. Pohon itu telah mati. Kayu itu cukup besar. Tertanam dekat pinggir sungai. Pucuknya telah mengering, tidak ada selembar daun pun tinggal. Bagus! kayu ini pantas untuk pembangunan surau itu. Kayunya kuning mengkilat. Tidak lagi perlu cat atau pelitur. Pelitur, bolehlah, sedikit saja. Dan kayu itu akan ditebangnya sendiri. Mudah saja. Kayu dikapak sampai putus. Kulitnya dikupas. Didorong kesungai. Lewat sungai itu akan diangkutnya. Dari tepi sungai hanya perlu sebuah gerobak dorong untuk sampai ketempat surau itu dibangun.
Istrinya tak akan tahu semuanya. Sesudah dia pulang barulah tahu, pekerjaan apa yang telah dibuat oleh suaminya! Betapa senang ia nanti, seorang perempuan tua yang saleh. Kayu itu kita sumbangkan untuk pembangunan rumah Tuhan, istriku. Istri akan senang, memuji syukur. Pada saat-saat terakhir dari hidup mereka, masih sempat juga beramal.
Ya, dia sendirilah yang menanam pohon itu. Dia sendirilah yang menyiram dengan air sungai. Alangkah suburnya dulu. Ayahnya akan memerintahkannya memanjat apabil nangka itu telah berbuah masak. Kematian pohon itu tak perlu pula disesalkan. Pohon itu akan diletakkan disuatu tempat terhormat: Rumah Tuhan. Setiap hari akan disaksikan orang-orang memuji kebesaran Tuhan dan RasulNya. Itu akhir yang baik bagi sebuah kayu! Jauh lebih baik daripada masuk tungku. Apalagi tungku orang kafir, yang memasak rizki haram! Itu sudah wajar, pohon itu ditanamnya dulu dengan mengucapkan nama Tuhan lebih dulu. Sebuah pohon nangka yang ditanam dengan tangannya, dibesarkan dengan tangannya, dan ditebang dengan tangannya! Ia akan membuktikan dengan benda yang nyata, sekali dalam hidupnya dapat juga ia menyumbang untuk Tuhan.
Seharian itu ia merenungkan, apakah ia benar-benar akan sanggup menebang pohon itu dengan tangannya. Alangkah ebsar, ya, tidak dua kali keliling tangan, kalau selingkar tangan, ya  lebih. Menebang sendiri bisa juga, tetapi apakah tenaganya akan kuat? Mengupah orang, istrinya tidak meninggalkan uang sesen pun padanya. Hanya beras dan lauk secukupnya sampai istri itu pulang. Mengupah orang tak mungkin, apalagi memberi makan.
Melihat betapa besar pohon itu, ia mengurungkan niat untuk menebangnya sendiri. Ada cara! Dahan yang tak berguna baiklah diberikan pada penebang sebagai upah. Ia tak akan kehilangan apa pun kecuali kekotoran akibat tumpukan reranting dan dahan! Ia gembiram. Telah dibayangkannya dalam khayal. Isteri akan memuji-muji kebijaksanaannya itu. Amal yang demikian itu akan abadi. Pahalanya akan dihitung sampai bahan itu musnah. Seminggu lagi kalau ia dirumah akan diberitakan itu. Mula-mula akan diajaknya istrinya berkeliling kebun. Disuruh menerka pohon apa yang tidak ada. Nangka! Dan kemana pergi pohon itu? Tidak, istrinya tak akan tahu. Surau, istriku, rumah Tuhan! Ia akan tersenyum. Tidak, tak usahlah. Begitulah cara yang paling baik menyampaikan berita pada mbok cerewet itu.
Maka ia pun mencari tukang tebang. Dibuatnya perjanjian bahwa dahan-dahannya akan menajdi upah. Dan bersihlah pekarangannya. Tanah itu akan menjadi rata kembali. Penebang itu tahu maksud lelaki tua dan menolak untuk menerima upah, tetapi lelaki tua itu menerangkan, amal itu terletak dalam niat. Adapun kayu yang akan diperoleh, itu adalah sewajarnya dalam bertetangga.
Begitulah seorang laki-laki dengan ototnya yang besar-besar bekerja dipekarangan. Pagi sekali ia telah datang, menyiapkan kapak, tali-tali dan memanjat. Lelaki tua yang tidak bisa membantu apa pun. Ia tak bisa memanjat, lagipula istrinya memesan dia dengan sangat supaya dihindari memanjat sangat rendah sekalipun. Ia sendiri sadar, tangannya telah gemetar, tak bisa lagi kuat berpegang. Itu berbahaya, akan dapat mempersingkat umur. Ia melihat kulit penebang itu, kulit yang kecoklatan berkilau oleh matahari, suara kapak yang bergema. Seluruh alam mendengar. Barangkali malaikat Tuhan telah mencatat apa yang telah dikerjakannya hari itu. Setiap gaung kapak itu memberitakan pada lelaki tua akan amal yang dibuatnya. Tidak usah menyesal tidak dapat membantu-bantu. Orang pun tahu ia sudah tua. Cukuplah mengawasi. Hari pertama dari penebang itu dilaluinya tnapa dapat menyumbangkan tenaga.
Kayu itu akan membuatnya tersenyum pada hari kematiannya. Ketika itu boleh jadi tubuhnya telah hancur oleh tanah dikuburnya. Tetapi jelaslah, kayu itu masih akan tetap menjadi saksi, ia pernah hidup dan menyumbangkan sesuatu untuk surau. Tidak, bukan orang yang akan membuatnya senang, tetapi karena Tuhan sendiri melihat itu. Kalau saja mungkin ia akan menghindari penglihatan orang. Sebab, hanya Tuhan jugalah yang diinginkannya.
Disaksikannya ranting demi ranting jatuh dari pohon. Seperti itulah manusia. Satu per satu ia akan dikuburkan. Ranting jatuh itu masih pula dapat dipergunakan. Mereka dapat masuk api dan memberi panas pada dasar periuk atau memberi panas pada mereka yang kedinginan. Tetapi apa yang disumbangkan orang mati. Tidak satu pun. Bahkan orang akan menyusahkan tetangganya, karena orang-orang lain harus mengangkutnya ke kubur, memasukkannya keliang. Sesudahnya adalah tanggung jawabnya sendiri.
Hari berikutnya sudah mulai dapat membantu-bantu. Penebang itu sudah mulai menebang bagian bawah. Ranting-ranting sudah jatuh, berserakan. Sesungguhnya ia akan mengangkut kayu-kayu itu. Sekarang bolehlah kayu itu rebah dengan aman. Tak ada yang akan disangkutnya. Cabang-cabangnya telah bersih. Bisa saja sekarang, tergelimpang.
Dia pun ingin berbuat. Diingatnya ada kapak dirumah, kapak itu pertama-tama harus ditajamkan. Ya, ia mengeluarkan batu pengasah dan seember air. Aduh, tukang tebang itu melarangnya. Ia telah tua. Tetapi perlu diketahui bahwa untuk mengasah kapak dan memukul kapak itu pada pohon, bayi pun bisa dipercaya. Apalagi orang-orang tua! Keringatnya telah mengalir, ketika ia harus mengangkut air dari sumur. Dengan tenaganya dapatlah ia mempunyai sebuah kapak yang baik, mengkilat tajam, hanya besi tak terpatahkan oleh kapak semengkilat itu. Aduh celaka, penebang macam apa itu! Ia mengatakan kapak itu tidak akan mempan. Tentang kapak, penebang yang mana pun tak dapat mengalahkannya. Ia sudah merawat kapak-kapak sejak. Tak sangsi lagi, kapak itu pasti yang setajam-tajamnya didunia.
Itulah sebabnya ia berjuang keras melawan ketuaannya sendiri. Ia mengayunkan kapaknya keras-keras, sehingga badannya sendiri terguncang. Penebang itu merasa terganggu dan mengatakan padanya kalau bukannya kayu yang akan putus, hanya tubuhnya saja yang kehabisan tenaga. Lagi pula kapaknya tak mengena sasarannya. “Jangan kau pukulkan kapak itu lurus, Pak. Agak miring sedikit,” kata penebang itu. Ya, soal cara menebang bisalah dia memperbaiki. Tetapi untuk menghentikan pekerjaan itu, jangan berani. Ia buktikan lelaki tua bukannya pemalas yang selalu menggantungkan hidup pada orang lain. Pahala yang didapatnya mengantarkannya sampai akhirat. Dan, mana bisa istri akan mengumpatnya dengan: pemalas. Menyumbangkan pohon nangka kekuningan, bercahaya dalam sinar matahari. Dia akan dapat berkata tentang pohon nangka itu: itulah yang ditebang dengan tanganku.
Ia merasa telah bekerja dengan sangat keras, tak seorang pun menyuruhnya. Pada hari ketiga dari pekerjaan itu, ia bangun pagi-pagi. Betapa senang ia ketika penebang itu datang dan dia dapat menunjukkan hasil tebangannya. Kapak itu telah diayunkan begitu kuatnya, membuat bekas yang dalam. Penebang itu mengatakan, “kayu ini digigit nyamuk atau ditebang dengan kapak?” Tentu saja ia keliru, tidak pernah menghitung bahwa nyamuk tak sekalipun mau menggigit pohon nangka. Ya, tentu kapak! Penebang itu tersenyum: “Sudahlah, Kakek. Sudahlah, Bapak. Sudahlah, apalagi dikatakannya. Tidak, itu kayunya sendiri. Penebang itu memberi contoh padanya bagiamana menebang dengan cara yang betul. Dan alangkah besar bekas tebangan itu! Lelaki tua tersenyum,; “Itu karena kapakmu yang tajam! Dan tenagamu yang segar. Cobalah kalau kau sudah kerja sejak pagi!”
Mundur? Tidak, sekali-kali tidak. Istrinya akan benar kalau ia tak meneruskan kerjanya. Siapa pun yang mau bekerja bukannya pemalas. Jangan menilai seseorang dari hasilnya, tapi dari niatnya. Dan ia berniat menebang habis pohon nangka itu! Sesungguhnya perbuatna itu dihitung dari niatnya! Ia mengulang lagi dari niatnya. Cobalah ingat, ia mulai lebih pagi daripada penebang sebenarnya. Dan tenaganya pun lebih banyak keluar. Perkara keringat, itu karena penebang lebih banyak minum. Dan, apakah kerja diujur dengan banyaknya keringat yang keluar. Itu sungguh tidak jujur. Dapat saja keringat bercucuran tanpa bekerja.
Ia akan berusaha sungguh, supaya hanya Tuhan yang tahu kalau ia telah menyumbangkan kayu itu untuk surau. Maka ia pun berpesan pada penebang jangan membocorkan rahasia itu. Beramal baik ialah bila tangan kananmu mengeluarkan, tetapi bahkan tangan kirimu tak melihatnya! Tak perlu seorang pun tahu. Ia dan penebang itu telah berjanji supaya kayu itu datang dengan tiba-tiba saja dipembangunan surau seolah-olah datang dari langit. Alangkah bijaksana pikiran itu! Asal jangan ada perempuan cerewet yang disebut istri itu, pastilah akalnya menjadi jernih. Pada hari gelap yang tak seorang pun akan tahu, kayu itu akan terdampar disurau. Pada balok itu nanti dia akan menuliskan: Sepotong kayu untuk TUhan. Dengan arang saja, itu cukup baik. Kayu yang tiba-tiba datang itu akan membuat seluruh kampung terkejut. Dan siapakah orang yang berpikiran bahwa dialah penyumbang yang tak mau menyebut nama itu. Tidak seorang pun. Hanya Tuhan dan malaikatNya! Kebanggaan yang terpendam lebih baik dari kebanggaan yang terbuka. Kebanggaan yang terpendam membuat orang tertawa. Dan senyum lebih abadi dari tertawa.
Keinginannya supaya kayu itu cepat selesai tak tertahankan. Ia tak tahu lagi umurnya, berat badannya, jumlah tenaga yang dia punya atau yang telah dikeluarkannya. Ia melambung seperti dalam sebuah mimpi yang senikmatnya. Keringat mengalir dari kulitnya. Penebang itu menegurnya. Ah, masih perlukah dia diperingatkan apa-apa oleh siapa-siapa pada umurnya yang telah lanjut itu? Tidak. Istrinya atau penebang itu tak ada hak apa pun untuk mengingatkan dia. Pikirannya adalah satu-satunya pertimbangan. Kebaikan harus dikerjakan bagaimanapun akibatnya. Dia tahu apa yang bisa dan tak bisa dikerjakannya. Dan berhak sepenuhnya akan dirinya sendiri. Sayang, tubuhnya tak dapat mendukung kemauannya. Pada siang hari itu juga, keringat banyak mengalir dari tubuhnya. Dan, ia pingsan.
Ketika lelaki tua itu menyedari dirinya kembali, orang banyak berkerumun. Tidak, tak apa-apa. Maka lelaki tua itu mengusir mereka yang berkerumun. “Pergi tak adaada apa-apa. Hanya mengantuk sedikit, untuk apa kalian datang.” Mereka pun pulang.
Aduh, pastilah penebang itu telah membocorkan maksudnya itu pada mereka yang datang. Tidak, Kakek. Nah, itu baik. Rahasia itu akan bocor kalau Kakek bekerja lagi. Sebab ia akan jatuh pingsan lagi dan orang akan datang lagi. Dan menanyakan untuk apa kayu itu. Jadi, penebang itu menganjurkan untuk tidak lagi bekerja. O, ya. Siapa pun yang mengatakan, kalau perkataan itu bagus pantaslah dikerjakan.
Sejak saat itu ia tak menyentuh lagi kayu itu. Seluruhnya terserah pada penebangnya. Pohon itu tumbang. Penebang itu menjadikannya balok persegi panjang yang kuning keemasan. Tak perlu menyesal lagi tidak ikut mengerjakan. Ia sudah berusaha. Yang penting, sekarang, ialah merencakan segalanya. Itu perlu pemikiran seorang berpengalaman. Dialah orangnya yang harus memikirkan. Perkara mengangkat-angkat cukuplah pak penebang, itu memang kerjanya. Hanya sedikit kecewa, ia tak akan bisa mengatakan bahwa dia sendirilah yang telah merobohkan makhluk kuning itu. Biarlah, masih banyak yang akan dikerjakannya dengan kayu itu. Ada lagi, yaitu mendorong sampai tepi sungai dan menghanyutkan.
Lelaki tua itu bersepakat untuk menghanyutkan kayu itu pada sore hari setelah matahari tenggelam. Diseberang timur akan ditaruhnya kayu itu dna pagi-pagi sekali penebang itu akan membawa gerobak dorong. Pagi sekali, sehingga makhluk Tuhan sebangsa manusia tak akan melihatnya.
Sore hari, langit telah memerah dibagian barat. Awan tebal menutup matahari. Tetapi dari sela-selanya membersit cahaya merah yang berninar-binar menyerbu langit. Kedua orang itu berusaha menggulingkan kayu itu ketepi sungai. Dengan tongkat-tongkat besar dari kayu, mereka berdua mendorongnya. Goresan yang dalam, membekas-bekas pada tanah yang terlewat. Sebentar-sebentar akan terdengar teriakan dari mulut tua itu: Bagus! Setiap gerakan akan diberinya aba: Ana ini ning! Dorong! Nah, sangat bagus. Istirahatlah sebentar.
Matahari tidak ada lagi. Hanya kemerahannya masih tergambar dilangit. Maghrib, bisa ditunda sebentar. Keduanya mengikuti kayu itu. Masuk air. Taklah sulit bergaul dengan air sungai. Keduanya anak-anak desa yang bersahabat dengan air sejak Ibu mereka memandikanya yang pertama. Ada bayangan merah dalam air yang terguncang dan hilang. Air sungai itu ialah yang setenangnya yang pernah dia kenal. Agak dalam, membasah lebih sedikit dari perutnya. Balok kuning menghanyut dengan lena dipermukaan air. Tangan-tangna mereka menjaga arah. Arus dapat dengan mudah dihindarkan.
Bagian ini adalah tempat yang paling sepi dari dusun. Tak akan ada seorang pun melihatnya. Jauh disana terdengar suara riuh anak-anak. Tuhan, janga biarkan anak-anak itu sampai sungai! Sepotong kayu ini semata-mata untukMu. Aduh, mereka mendekat kesungai itu! Apa kerja mereka gelap macma ini kesungai, anak-anak tak tahu aturan! Dan, mereka berkerumun dipinggir, menonton. Mereka bertanya. Bah! Mereka mencopot pakaian, masuk ke air. Lelaki tua itu kebingungan. Anak-anak itu dibujuknya: “Sudah gelap macam ini, pulanglah.” “Kami akan naik kayu ini, Kek” Wah, anak-anak nakal! Air berkecipak kesana kemari. Kepala, rambut, telinga, dan sekujur badan tua itu tertampar air. Seperti air es, dinginnya? Anak-anak itu kegirangan. Ya, asal jangan bertanya untuk apa! Mengusir anak-anak? Tidak. Anak-anak itu naik baloknya. Kayu itu timbul tenggelam dalam air. Lelaki tua itu ingat, kenapa ia tidak ikut naik, toh bisa saja Pak Penebang itu disuruhnya mengatur arah dan dia naik. Kepinginnya seperti anak-anak itu ditahannya. Itu akan menertawakan. Anak-anak itu membasahi tubuhnya. maka, ia pun membalas mereka. Mereka membalasnya. Riuhlah sungai itu. Dalam gelap keramaian itu seperti suara-suara setan dalam gerumbul pohonan. Kecipak air mengalahkan suara malam: binatang-binatang entah dimana dalam tanah disela rerumputan menyembunyikan suaranya yang tenang dan terus-menerus. Suara-suara itu berseling dengan suara air dan teriakan anak-anak. Yang penting, ialah tetap membungkam pada anak-anak. “Bukan untukmu, Buyung, aku menebang pohon. Sebagai ganti jawaban, lelaki tua itu menakuti mereka dengan banjir”. Lihatlah, alangkah mendungnya. Terbawa banjir nanti, kalian. “Tak apalah, Kek. Kami ingin melihat laut”. Dasar anak-anak dusun nakal! Diingatnya, seperti itu jugalah masa kecilnya. Orang-orang tua adalah pemaaf-pemaaf. Ia menjadi senang dengan kehadiran anak-anak itu. Akhirnya anak-anak itu bosan juga. Mereka kembali ketepi, mengenakan pakaian, dan kabur dalam gelap pohonan.
Ketika itu tak ada cahaya merah pun di air dan dilangit, sampailah iringan itu kesebuah tempat, dekat dengan jalan ke desa-desa. Disitulah mereka aka berlabuh. Tidak terlalu sulit meminggirkan kayu itu. Untuk apa laki-laki kalau tidak bisa mengurus sepotong kayu! Mereka meminggirkan, diatas tanah berpasir itu mudah saja menarik dengan tali. Seperti kereta yang berjalan diatas tanah. Ya, kayu itu telah bergelimpang disana. Diatas pasir yang lembut. Selamat tinggal, kayu. Sampai besok pagi.
Menjelang malam, lelaki tua telah menyiapkan makan. Alangkah nikmat makan sesudah kerja keras. Dan lagi kegembiraannya yang besar. Siapakah yang menikmati makan dalam keadaan gembira. Pohon angka itu telah disana, dipinggir sungai. Makanlah selahapnya! Segera saja matanya mengantuk bukan main. Badannya dingin, segar. Enaknya tidur ialah dalam keadaan lelah. Segera saja tertidur: surau, balok kayu, penebang, istri, anak-anak, sungai. Ia tersenyum dalam pejam mata.
Inilah rencananya, yang sebentar diingatnya sebelum tetap yang pertama. Ia harus bangun pagi-pagi. Langsung saja ketepian sungai itu. Kemudian akan datang penebang dengan gerobak. Mereka akan mendorong gerobak itu bersama. Dan sebelum orang terbangun, kayu itu telah tersedia didepan gungukan tanah bakal surau itu. Tetapi hanya Tuhan dan malaikatNya yang akan dapat menjawab. Tidurlah.
Malam menjadi dingin. Udara lembab. Suara desir air sungai terdengar pelan. Ada suara-suara yang sangat dikenal: binatang-binatang malam di tanah, di rumputan, di air, di pohon, di udara. Pohon dusun merunduk dalam gelap. Makhluk inilah yang lebih banyak menggambarkan malam hari. Tenang dingin, daunan tertunduk. Seperti dunia ini adalah gundukan tanah dan tetumbuhan yang terlupakan. Tidak ada kehidupan diluar rumah.
Lelaki tua itu biasa bangun tepat pada waktu yang direncanakan. Orang tua dapat berbuat itu. Sarung dikerubutkan di tubuhnya, ia pun melangkah ke luar. Sesungguhnya tak akan ada yang melihat. Dia kenal betul dusunnya. Dengan mudah akan dicapainya pinggiran sungai itu. Kayu nangkaku, sebentar lagi, aku datang padamu.
Ada sebuah suara, apakah itu? Oh, kelontang gerobak. Sedikit kurang hati-hati penebang itu. Hati-hatilah, jangan dibangunkan orang. Kemudian dia senang setelah ternyata hanya sebentar gerobak itu terdengar. Dia masih juga menyesali itu, tapi tentulah bukan kesalahan pak penebang. Bagaimana pun hati-hatinya kau mendoorng, dibelokkan itu pasti berbunyi juga, banyak batu-batu menyembul dari tanah. Baiklah tidak ada suara-suara orang terbangun. Disini tempat masih akan sepi sampai orang bangun mengambil air ke kali, untuk mencuci atau mandi. Ya, lelaki tua itu sejak menjadi lebih tua, tidak lagi tahan air kali mengalir dingin ditubuhnya dalam udara pagi. Kalau dia kanak-kanak dan bukan lelaki tua, pasti dia akan merenangi sungai pagi itu.
Ia ingat istrinya. Juga andaikata dia dirumah menjelang subuh begini, dia akan membangunkannya. Sembahyang, pak muslim. Tuhan menunggumu. Panjangkanlah umurku, dalam ketuaan yang sehat. Pagi itu dia merasa sangat sehat. Sedikit pun tak ada dingin dalam tubuhnya. Itu berkat sarung, berangkali. Ya, tetapi juga, kegembiraannya menghilangkan rasa dingin dan segalanya! Lebih penting dari dingin adalah sepotong kayu.
Dia bayangkan bagaimana surau itu, dimana letak kayu dari pekarangan itu diletakkan. Tentu, orang akan suka lama-lama tinggal disurau. Kalau dipikir, tidak ada yang istimewa: Kayu itu tumbuh dari bumi Tuhan, dan sekarang kembali keapda Tuhan. Ketika itu dia masih kecil, bermain-main panjat diatas nangka. Alangkah baik dahan-dahan nangka itu dahulu untuk dipanjat. Sekarang, telah menjadi sebuah balok. Tentu kuningnya akan mengalahkan gelap malam.
Sementara orang kampung terkejut melihat kayu yang tiba-tiba datangnya itu, ia akan merokok pipanya di rumah. Lama-lama ia akan menghisapnya. Ya, kayu itu datang dari kebunku. Tetapi kalian tak boleh tahu. Kemudian kayu itu dipotong-potong jadi kecil. Atau, bukankah lebih baik digergaji besar-besar untuk tiang utama yang empat buah itu? Sesuka oranglah. Sebab, setelah kayu itu lepas dari tangannya, tak ada haknya lagi.
Kalaulah ia punya lebih banyak dari itu, akan dibawanya semua ke surau. Dipekarangannya hanya terdapat rumpun bambu dan sayuran. Seharusnyalah ia malu, hanya sedikit itulah yang dikembalikannya kepada Tuhan.
Tiba dijalan dekat pinggiran dusun, ia terus menuruni jalanan kesungai. Wah, nanti harus mendorong kayu itu lewat jalan menanjak macam itu. Ia banyak menyimpan tenaga setelah tidur yang lelap semalaman. Gerobak itu semakin dekat, menuruni juga jalanan ke sungai. Dia ingin lebih dulu sampai, itulah sebabnya ia cepat berjalan. Jelaslah yang akan dikerjakan. Menatap kayu itu sampai lama, sebagai ucapan selamat jalan. Dalam gelap dipinggir sungai seperti upacara terakhir pemberangkatan prajurit kemedan perang. Ataukah seperti penguburan. Aduh, tololnya, pelupa! Engkau lupa menyediakan arang untuk menulis alamat kepada siapa kayu itu diberikan. Tololnya! kembali? Itu lebih tolol lagi. Pelupa ialah yang sejelek-jeleknya orang! Patut, ia memukul-mukul kepalanya. Jangan keras, nanti pening, Pak. Biarlah.
Langit masih juga gelap sebentar lagi fajar. Itu subuh akan tiba. Tanah dikakinya agak dingin, ya dekat sungai, basah. Ia terus melangkah. Gerobak itu mendekat, dibelakangnya. Tiba pada bagian yang terbuka, inilah tepian sungai. Masih gelap matanya tak begitu terang. Ia mengusap matanya, mengusap sampai terang, tetapi masih juga gelap. Atau memang masih terlalu gelap. Ah, mata tua, mata tua.
Kayu itu tidak nampak. Dimana? Matanya! Pak Penebang itu datang. Agaknya telah terjadi sesuatu? Gerobak itu berhenti dekat pinggiran sungai. Kesinilah! Tetapi sulit sampai kepinggirnya. Tanah itu terlalu lunak. Dinginnya tnaah! Mana kayu itu? Haruskah mereka menanti fajar? Ya, baiklah begitu. Mereka pun berdiri saja dipinggiran sungai, tak nampak juga kayu itu. “Mana kayu itu, Pak Penebang?”. “Mana kayu itu, Kakek”.
Tidak ada lagi. Ketika cahaya fajar pertama datang dari celah langit, tahulah mereka kayu itu tak ada lagi. Ditepian sungai banyak sampah menambat. Dicari, dicari! Tidak usahlah. Jelas, telah banjir semalam. Kayu itu hanyut. Tuhan! Sampai kepadaMukah?

Lelaki tua berdiri. Penebang berdiri. Sesuatu telah hilang. “Tidak, tak ada yang hilang” kata lelaki tua itu. Pak Penebang mendorong kembali gerobak. “Kakek, kita pulang”. Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Tersenyum. Sampai kepadaMukah, Tuhan?

CERPEN "JALAN ASMARADANA" KARYA KUNTOWIJOYO

CERPEN “JALAN ASMARADANA”
KARYA KUNTOWIJOYO

cerpen jalan asmaradana karya kuntuwijoyo

Ada tragic sense of life, ada comic sense of life. Mereka yang menganggap hidup sebagai tragedi, memandang dunia serba suram, diwakili oleh teman saya Nurhasan. Dia yang tinggi akan melonjok sedikit dan mencapai langit-langit kamar tamu rumah bertingkat yang kami banggakan, “Lha betul to, Perumnas itu ya begini. Tinggi setidaknya empat meter supaya ruangan sejuk.” Mengenai genteng dikatakannya, “Kok dari asbes. Mereka ingin semua penghuni Perumnas kena kanker.” Mengenai dunia dikatakannya-menirukan dalang. “Jaman sudah tua, perempuan jual badan, anak lahir tanpa bapak, orang suci dibenci, orang jahat diangkat, orang jujur hancur.” Melihat ada rumah mewah di Perumnas, dia akan bilang, “Lihat orang-orang kaya mendepak keluar orang-orang miskin.” Mendengar ngoèng-ngoèng mobil pejabat, dia akan berkomentar, “Dengar itu sang menteri korup lewat.”

Lain lagi teman saya Kaelani yang memandang hidup sebagai komedi, sebuah lelucon. Dia adalah pemborong: SD Inpres, jalan aspal, talud sungai. Di mana-mana: mantenan, tirakatan 17 Agustusan, katanya sambil ketawa, “Pemborong itu harus jadi pembohong.” Gedung retak, aspal mengelupas, tanah longsor, semua ditertawakannya. “Ya, kalau rusak diproyekkan. Semua senang, DPRD, kepala dinas, dan tentu saja pembohongnya, eh, pemborongnya”. Katanya lagi, “Pemborong itu masuk sorga tanpa dihisap.” Dihisap artinya dihitung baik-buruk amalnya. Sambungnya, “Apa sebab? Karena ia suka berbohong untuk menyenangkan orang.”

Akan tetapi, keduanya sangat lain dengan kasus Pak Dwiyatmo versus Said Tuasikal di Jalan Belimbing (keluarga kami menyebutnya sebagai Jalan “Asmaradana”. Asmara artinya cinta, dana singkatan dari dahana artinya api). Itu adalah tragi-comedy yang mengganggu karier saya sebagai Ketua RT.

Mohon diketahui bahwa selepas tugas belajar saya tinggal di Perumnas, bagian perumahan dosen. Sebagai orang paling terpelajar, saya didaulat teman-teman jadi Ketua RT, menggantikan Pak Trono yang pindah. Tentu saja saya menolak dengan banyak alasan: sering tak di rumah, mengajar di sana-sini, pekerjaan kantor bermacam-macam, masyarakat besar membutuhkan tenaga saya. Tentu saja tidak saya katakan bahwa akan segera dipromosikan ke Jakarta.

“Bapak tidak usah repot, Ketua RT itu hanya kedudukan simbolis,” kata seorang pemondok dengan bahasa sekolahan. Dia sedang sekolah S2.

Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling konkret di dunia: mengurus PBB, semprotan DB, kerja bakti membersihkan selokan, menjenguk orang sakit, pidato manten, dan banyak lagi. Presiden bisa diam, Ketua RT tidak. 
“Jangan khawatir, urusan RT adalah urusan bersama,” kata seseorang. 
“Gotong-royong kita sangat bagus.” 
“Kita masih punya semangat empat-lima.”
Setelah semua mendesak, kata saya, “Saya terima pekerjaan ini, dengan satu syarat. Ketua RT itu tugas kolektif keluarga. Saya dan istri. Kalau saya di rumah, saya akan aktif, kalau tidak, istri yang mengerjakan.”

Semua setuju. Jadilah saya Pak RT. Maka Indonesia punya Ketua RT berijazah S3 dari universitas papan atas di Amerika. Dan Ibu Pertiwi punya pengganti Pak RT, istri saya, lulusan universitas Kota New York. Sekali-sekali rapat bulanan RT saya pimpin, sekali-sekali istri saya. Test-case yang pertama-apakah doktor luar negeri bisa jadi Ketua RT-ialah mengurus perkara Pak Dwiyatmo dan Said Tuasikal. Mereka tinggal satu kupel, dinding dari asbes menyekat RS mereka yang masih asli itu. Pak Dwiyatmo adalah penghuni lama, Said dan istri menyewa rumah sebelahnya untuk lima tahun sampai selesainya program S3. Said berasal dari Ambon, dibiayai APBD untuk sekolah.

Pasangan Said orangnya baik. Said ikut ronda, dan istrinya ikut arisan. Dari poskamling dan arisan itulah warga tahu keluhan-keluhan mereka tentang Pak Dwiyatmo yang secara tidak sengaja dikatakan. Sebagai warga yang baik, mereka berdua datang untuk mengenalkan diri kepada Ketua RT yang baru secara formal. 
“Beta orang Ambon, istri beta orang Jawa.” 
“Dan anak Mas Said jadi Jambon. Itu warna pink, warna cinta.” Jadi ada Jadel, ada Jamin, ada Jambon. 
“Memang kami cinta Indonesia,” katanya serius, tidak tahu kalau saya hanya berkelakar. 
“Setidaknya kamu cinta perempuan Jawa.” 
“Bukan setiap perempuan Jawa, Bapak, tapi Jawa yang ini.” Terlihat istrinya menyikut suami.

Singkatnya, Pak Dwiyatmo dianggap membuat bising. Sebab, larut malam malah dia bekerja, memaku, membenarkan dipan atau apa begitu, thok-thok-thok. Tak seorang pun tahu apa yang dikerjakannya. Siang hari pintu rumahnya tertutup karena pergi. Malam hari juga tertutup, karena itu saran dokter puskesmas. Maka ia absen di semua kegiatan kampung. Tapi bunyi malam-malam itu! Dan Said berdua yang pasangan pengantin baru perlu malam yang sepi! Entah untuk apa.

Namun, wong sabrang yang biasanya thok-leh dan bernama Said itu, tak pernah menegur secara langsung Pak Dwiyatmo perihal kelakuannya. Istrinya melarang dia. Katanya, “Orang Jawa itu jalma limpat, dapat menangkap isyarat.” “Ya kalau iya, kalau tidak, bagaimana?” bantah suaminya. “Tunggu saja.” Mereka menunggu, tapi tiap larut malam thok-thok itu masih terdengar, membuyarkan harapan indah mereka di tempat tidur. Maka, perseteruan diam-diam itu berjalan terus.

Memang, para tetangga bilang kalau ada yang aneh pada Pak Dwiyatmo setelah istrinya meninggal. Dia, yang dulu rajin, tidak lagi ke masjid. Sebagian orang masjid mengatakan ia tidak qana-ah, artinya tidak ikhlas menerima takdir Tuhan, itu sebabnya ia protes kepada-Nya (Allahumaghfirlahu, semoga Allah mengampuninya. Semoga dipanjangkan umurnya sehingga ia sempat bertaubat). Sebagian lain mengatakan bahwa ia selalu sembahyang di sungai dekat pemakaman Tegalboyo, sudah itu membuka bungkusan dan makan. Sebagian lagi mengatakan setiap Jumat ia pergi sembahyang di masjid Ploso Kuning. Ada yang mengatakan bahwa ke masjid di Perumnas akan melukai hatinya, sebab ia selalu pergi jamaah bersama istrinya dulu. Saya tidak tahu mana yang benar.

Pagi hari dia akan terlihat membawa cangkul. Kabarnya ia sudah memesan “rumah masa depan” di pekuburan Tegalboyo, di samping kuburan istrinya. Soal liang kubur itu urusan Pak Dwiyatmo, itu HAM. Dan saya sebagai Ketua RT tak pernah punya waktu untuk menegur Pak Dwiyatmo tentang thok-thok itu. Hari Minggu pun pagi-pagi sekali ia akan memikul cangkul, mengunci pintu, siang pulang, mengunci pintu, dan tidur sampai sore.

Paling mudah ialah mendatangi Said, “Mas Said, di Jawa ini orang perlu hidup rukun. Pandai menyesuaikan diri seperti kalian berdua. Ajur-ajer”. Tampak Said tidak tahu arah pembicaraan saya. Istrinya yang menjawab. 
“Orang sebelah itu pasti punya kelainan, Pak.” 
“O ya, Bapak. Suara-suara itu sungguh mengganggu!” timpal suaminya. 
“Ya pindah rumah, to. Kok sulit-sulit.” 
“Ininya, Bapak,” katanya sambil menggosokkan ibu jari ke telunjuk. 

Suatu pagi saya bersama istri jalan-jalan. Di pintu gerbang RT kami bertemu Said berdua, berdandan rapi. 
“Pagi-pagi sekali, dari mana?” 
“Aa Bapak ini bagaimana, Proyek Jambon, tentu”. 
“Lho, kok?” 
“Kami selalu ke hotel, tenang. Tapi tidak tahu sampai kapan kami tahan.”

Kami baru saja tahu apa yang dikerjakan Pak Dwiyatmo di malam hari. Pasalnya begini. Anak-anak Perumnas sedang main sembunyi-sembunyian. Kebetulan pintu rumah Pak Dwiyatmo terbuka, dia tertidur di kamar karena kelelahan mencangkul itu. Beberapa anak laki-laki masuk rumah dan bersembunyi di dalam meja-mejaan Pak Dwiyatmo yang ditutup dengan kayu. Aman. 
“Di mana kalian? Kami kalah.” 
Mereka membuka tutup meja-mejaan, “Sini!” Lalu menutupnya kembali. 
“Di mana?” 
“Sini!” 
Berulang-ulang. 

Tiba-tiba seorang mengerti arah suara itu. Lalu lari tunggang langgang sambil menjerit-jerit. Anak-anak dalam meja-mejaan itu keluar dan ikut lari dan menjerit-jerit. Orang-orang di gang itu pun keluar. Mereka pergi ke rumah Pak Dwiyatmo. Masya Allah! Keranda! Keranda! Suami-istri Said ikut keluar. Keranda! Sejak itu keluarga Said menghilang.

Beberapa hari kemudian Ketua RT dapat panggilan dari Pengadilan Negeri. Saya berhalangan, yang datang Bu RT alias istri saya. Di kantor pengadilan istri saya menunjukkan surat panggilan itu. 
“Panggilan itu untuk Ketua RT. Tidak bisa diwakilkan begitu saja.” 
“Saya penggantinya. Ini Surat Kuasa.” 
“Kalau begitu, tunggu.” Ia masuk ruangan. 
Ketua Pengadilan atau yang mewakili keluar. 
“Begini, Bu. Ini ada gugatan untuk Pak Dwiyatmo karena ia mengganggu ketertiban. Tolong diselesaikan dengan damai, tanpa melalui pengadilan.”

Melihat keranda itu rupanya Said atau istrinya jadi betul-betul tidak tahan. Pantas mereka kabur dan menggugat lewat pengadilan. Mereka berpikir bahwa paling-paling Ketua RT menyarankan agar mereka menyesuaikan diri, karena saya tidak juga menegur Pak Dwiyatmo. Saya merasa bersalah. Sungguh mati, saya tidak tahu kalau Pak Dwiyatmo sedang membuat keranda.

Saya sedang mencari waktu luang untuk bertemu Pak Dwiyatmo, ketika tiba-tiba ada perubahan besar. Masalah keranda yang sudah diketahui umum itu membuatnya berhenti bekerja sama sekali. Dia tidak lagi thok-thok di waktu malam, tidak lagi memanggul pacul di siang hari. Pekerjaannya ialah menyapu-nyapu halaman, lalu leyeh-leyeh di lincak di depan rumahnya.

Saya menghubungi Pascasarjana UGM dan mendapat alamat Said. Saya menghubungi Said, mengatakan bahwa tidak ada lagi gangguan ketertiban. Dengan malu-malu Said jadi warga RT kembali. Ketika minta maaf kepada saya karena telah merepotkan, dia membawa sebotol minyak kayu putih. 
Pak Dwiyatmo sedang menyapu-nyapu halaman ketika lewat seorang perempuan setengah baya. 
“Kok menyapu sendiri, Pak?” 
“He-eh, tidak ada yang disuruh.” 
Lain hari perempuan itu lewat lagi. 
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti lelah, lho.” 
“He-eh, habis bagaimana lagi.” 
Lain hari perempuan itu sengaja lewat. 
“Kok menyapu sendiri, Pak. Nanti kalau lelah yang mijiti siapa?” 
“Ya tidak ada.” 
Lain hari perempuan itu sengaja lewat lagi. Tangannya menggenggam balsem. Pak Dwiyatmo juga sedang menyapu. 
“Kok menyapu sendiri, Pak. Kalau lelah, apa mau saya pijit?” 
“Mau saja.”

Singkatnya, mereka berdua lalu pergi ke KUA untuk menikah. Mereka jalan-jalan bulan madu kedua ke Sarangan. Saya tahu karena suami-istri minta titip rumah pada Ketua RT. Tumben, ada keceriaan di wajah Pak Dwiyatmo yang selama ini belum pernah saya lihat. “Mau kuda-kudaan, ya?” maksudnya, naik kuda keliling danau. “Ah, Bapak ini kok tahu saja,” kata istri sambil menjawil suami. Sesudah mereka pergi, saya menemui Said. “Selamat, kamu bebas,” kata saya. “Terima kasih, Bapak,” kata Said. Istrinya senyum-senyum malu.

Damailah RT, damailah Indonesia! Seminggu kemudian Pak Dwiyatmo berdua pulang. Tapi, apa yang terjadi? Petugas Siskamling yang menjemput jimpitan beras mengatakan bahwa mereka mendengar suara “aneh” di rumah (tepatnya di kamar) Pak Dwiyatmo. Siang hari Pak Dwiyatmo menggergaji keranda itu dan menjadikannya meja-kursi. Ini saya tahu karena saya datang untuk mengunjungi mereka yang temanten baru. Saya juga tahu yang lain. Istri baru itu sedang memotong-motong kain putih calon kain kafan Pak Dwiyatmo. “Ya, itulah yang terjadi,” kata Pak Dwiyatmo membenarkan pikiran saya. Lho! Saya sembunyikan keheranan bahwa dia tahu pikiran saya.

Seminggu kemudian Said datang ke rumah. “Coba, Bapak. Kami sedang mau tidur, tiba-tiba dari kamar sebelah, kami mendengar suara-suara. Ah, beta malu mengatakannya.” Sementara itu, petugas Siskamling melaporkan bahwa suara “aneh” itu pindah ke kamar tamu yang berdempetan dengan kamar tidur di rumah sebelah. Klop!

Saya mencoba menyarankan Said untuk melapisi dinding-dinding dengan gipsum yang kedap suara. “Ala, Bapak ini bagaimana. Kalau beta kaya pasti sudah menyewa rumah di luar Perumnas”. Istrinya menyambung, “Maaf, kalau kata-kata suami saya menyinggung Bapak.” Saya usul, “Kalau begitu, bagaimana kalau kamar tamu diubah jadi tempat tidur?” Katanya, “Ya, besoknya lagi Bapak akan menyarankan kami tidur di halaman.” Lagi istrinya memintakan maaf suaminya. Kemudian lain hari keluarga Said pergi lagi, meninggalkan surat. “Tolong beri tahu beta kalau tetangga sebelah sudah dipanggil Allah.”

Lain dari biasanya, pagi-pagi saya dapat pergi berjamaah ke masjid. Di sana saya bertemu Pak Dwiyatmo. Subhanallah! Saya terkejut. Ia menoleh dan berkata, “Betul saya Dwiyatmo.” Katanya lagi, “Saya berdosa, saya khilaf, saya bertaubat.” Ia melanjutkan sambil sama-sama jalan pulang, “Orang hidup ini harus seperti iklan. Ia berenang-renang di laut, tapi tak pernah jadi asin.” Saya sedang berpikir mungkin sudah waktu untuk mencari Said dan minta dia kembali ke Jalan “Asmaradana”, ketika orang-orang Siskamling mengatakan bahwa suara-suara “aneh” itu berjalan terus. Itukah “berenang-renang”? Wallahualam. Saya mau menegur Pak Dwiyatmo, tetapi rasanya tidak pas. Menyuruh keduanya berunding untuk menyelesaikan perseteruan diam-diam itu, jangan-jangan malah jadi perseteruan terbuka. Jadi saya hanya bagaimana-bagaimana sendiri.

Walhasil, saya gagal jadi Ketua RT, gagal mendamaikan Pak Dwiyatmo dan Said. Saya, doktor ilmu politik berijazah luar negeri! Entah apa yang akan saya katakan pada Said kalau kebetulan ketemu di kampus. Saya juga menghindar setiap mau ketemu orang yang saya persangkakan dari Ambon, nyata atau khayalan, hidup atau mati, di mana saja. Saya sangat malu. Leiriza, Luhulima, Tuhuleley, Patirajawane, Raja Hitu, sepertinya semua berwajah Said Tuasikal.

Saya juga gagal memahami Pak Dwiyatmo. Saya sudah pergi ke empat benua untuk belajar, riset, seminar, dan mengajar. Tetapi, bahkan tentang tetangga saya, Pak Dwiyatmo, saya tidak tahu apa-apa. Pak Dwiyatmo, Pak Dwiyatmo. Manusia itu misteri bagi orang lain. 
Tiba-tiba saya merasa bodoh, sangat bodoh. 

Contact Us

Name

Email *

Message *